Trump Hilang Kesabaran, Iran Terancam Digempur
Presiden AS Donald Trump mengaku mulai kehilangan kepercayaan terhadap para perunding Iran. Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah akan berlangsung lebih lama, setelah pertempuran kembali meningkat menyusul runtuhnya jeda serangan pada Juni.
Dalam rapat kabinet di Camp David pada Jumat (31/7), Trump mengecam serangan rudal Iran terhadap pasukan AS di Yordania. Ia menilai Teheran kerap memberikan informasi yang menyesatkan dan gagal memenuhi komitmen yang telah dibahas dalam proses diplomasi.
Trump memperingatkan bahwa militer AS dapat kembali menyerang Iran dengan kekuatan besar. Meski demikian, jalur komunikasi belum sepenuhnya tertutup karena Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, dan Jared Kushner masih melakukan pembicaraan melalui pihak perantara.
Kepercayaan antara Washington dan Teheran kini berada pada titik rendah. Iran juga menuduh Amerika Serikat melanggar komitmen dan tidak dapat dipercaya. Kondisi tersebut membuat peluang tercapainya gencatan senjata dalam waktu dekat semakin kecil, sementara kedua negara terus bertukar serangan udara.
Konflik yang telah berlangsung selama sekitar lima bulan itu juga mulai memberikan tekanan politik dan ekonomi bagi pemerintahan Trump. Gangguan jalur energi telah mendorong harga bahan bakar naik, sementara persediaan senjata AS dilaporkan semakin terbatas. Kenaikan harga bensin menjadi perhatian menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November 2026.
Analisis Newsmaker: Memburuknya peluang diplomasi dapat kembali mengangkat harga minyak karena risiko gangguan pasokan Timur Tengah meningkat. Emas juga berpeluang mendapat dukungan dari permintaan aset aman, tetapi kenaikannya dapat dibatasi jika minyak memicu inflasi dan ekspektasi kenaikan bunga The Fed. Dolar AS berpotensi menguat sebagai aset aman, meski biaya perang dan tekanan ekonomi dapat membatasi lajunya. (arl)
Sumber : Newsmaker.id