Diplomasi Iran Diuji Tekanan Balas Dendam
Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, membela upaya diplomasi untuk mengakhiri perang, di tengah tekanan kelompok garis keras yang mendesak pemerintah meninggalkan kesepakatan damai sementara dan membalas kematian pemimpin tertinggi Iran.
Ghalibaf menegaskan bahwa negosiasi bukan berarti kompromi atau menyerah. Menurutnya, diplomasi bersama kekuatan militer merupakan bagian dari strategi perlawanan dan cara menjaga kepentingan nasional Iran.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya perpecahan antara kelompok pragmatis dan kelompok garis keras di Iran. Kelompok pragmatis ingin mendorong pemulihan ekonomi dan melihat diplomasi sebagai salah satu jalan keluar, sementara kelompok garis keras menilai perundingan hanya memberi waktu bagi AS untuk kembali menyerang.
Tekanan terhadap jalur diplomasi makin kuat setelah pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Sejumlah tokoh garis keras menyerukan balas dendam dan meminta pemerintah memprioritaskan hukuman terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab, dibandingkan pembahasan ekonomi seperti pencairan aset Iran yang dibekukan.
Kesepakatan gencatan senjata Juni antara AS dan Iran kini hampir runtuh setelah kedua pihak kembali saling menyerang. AS memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan Iran, sementara Teheran menyatakan Selat Hormuz ditutup. Meski demikian, intensitas serangan saat ini masih lebih rendah dibandingkan puncak perang sebelumnya.
Dampaknya ke market, perpecahan politik di Iran membuat arah konflik semakin sulit diprediksi. Jika kelompok garis keras makin dominan, risiko eskalasi di Selat Hormuz bisa meningkat dan menjaga harga minyak tetap tinggi. Namun, jika jalur diplomasi masih dipertahankan, pasar bisa melihat peluang penurunan premi risiko geopolitik secara bertahap. (arl)
Sumber: Newsmaker.id