Retail Sales Jatuh, Pasar Mulai Takut Ekonomi Melambat
Penjualan ritel AS turun tajam pada Juli dan mencatat penurunan terbesar dalam lebih dari satu tahun. Nilai penjualan ritel turun 0,6% secara bulanan, jauh lebih lemah dibanding perkiraan pasar yang memperkirakan kenaikan 0,1%.
Tekanan juga terlihat pada komponen inti. Penjualan ritel di luar kendaraan dan bensin turun 0,2%, sementara pasar sebelumnya memperkirakan kenaikan 0,3%. Sementara itu, control group sales yang digunakan sebagai salah satu indikator konsumsi dalam perhitungan PDB turun 0,4%, berbanding terbalik dengan estimasi kenaikan 0,3%.
Pelemahan terutama berasal dari turunnya pembelian kendaraan serta penjualan di toko online. Data tersebut menunjukkan konsumen AS mulai mengurangi belanja setelah aktivitas konsumsi sempat cukup kuat sepanjang paruh pertama 2026.
Ekonom menilai kekuatan konsumsi sebelumnya turut ditopang oleh pengembalian pajak yang lebih besar pada awal tahun. Namun, dorongan tersebut bersifat sementara, sementara tingkat tabungan masyarakat AS pada Juni telah turun ke level terendah dalam empat tahun.
Data ini semakin menambah sinyal perlambatan ekonomi setelah pasar sebelumnya mendapat CPI dan PPI yang relatif lebih lunak serta tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja. Kombinasi tersebut dapat semakin mengurangi urgensi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Analisis Newsmaker: Retail Sales yang jauh di bawah ekspektasi menjadi sentimen negatif bagi dolar AS dan yield Treasury karena memperkuat ekspektasi Fed akan menahan suku bunga pada September. Sebaliknya, kondisi tersebut cenderung mendukung emas dan silver. Namun, jika pelemahan konsumsi berlanjut terlalu dalam, pasar saham juga dapat mulai melihatnya sebagai sinyal perlambatan ekonomi, bukan sekadar kabar positif bagi suku bunga. (arl)
Sumber : Newsmaker.id