Minyak Naik, Blokade Iran Picu Kekhawatiran Pasokan
Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Jumat (14/8) dan berada di jalur kenaikan mingguan setelah Amerika Serikat mengancam akan mempertahankan blokade laut terhadap Iran tanpa batas waktu. Brent naik tipis ke sekitar US$87,19 per barel, sementara WTI menguat ke US$81,75.
Secara mingguan, Brent berpeluang mencatat kenaikan sekitar 4,3%, sedangkan WTI naik sekitar 4,6%. Pasar menilai sikap terbaru Washington semakin memperkecil peluang tercapainya penyelesaian konflik Timur Tengah dalam waktu dekat.
Pemerintah AS sebelumnya menyatakan siap memperpanjang blokade terhadap Iran sekaligus meningkatkan tekanan ekonomi setelah pembicaraan gencatan senjata mengalami kebuntuan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga memberi sinyal akan ada langkah tambahan untuk meningkatkan isolasi ekonomi terhadap Teheran.
Ketidakpastian tersebut kembali meningkatkan risiko terhadap Selat Hormuz. Aktivitas pelayaran melalui jalur strategis itu turun di bawah rata-rata bulan ini, sementara sebelum konflik sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG global melewati Hormuz. Dua kapal milik Abu Dhabi National Oil Company juga dilaporkan diserang ketika melintasi selat pada Kamis.
Meski risiko pasokan menopang harga, kenaikan minyak masih dibatasi oleh prospek permintaan yang lebih lemah. OPEC sebelumnya memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan global, sementara persediaan minyak mentah AS mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari tiga tahun.
Analisis Newsmaker: Blokade AS terhadap Iran dan serangan terhadap kapal membuat premi risiko geopolitik kembali menopang minyak. Selama tidak ada kemajuan nyata untuk membuka Hormuz, Brent berpeluang bertahan di area US$85–US$90. Namun, lonjakan stok AS dan melemahnya prospek permintaan tetap menjadi faktor yang dapat membatasi reli lebih lanjut. (arl)
Sumber : Newsmaker.id