Defisit 5 Bulan Turun 12%, Tapi Risiko Penerimaan Tarif Menunggu
Defisit anggaran pemerintah AS pada Februari nyaris tidak berubah dari setahun sebelumnya di US$308 miliar, seiring pertumbuhan penerimaan dan belanja berjalan relatif berimbang. Departemen Keuangan AS melaporkan penerimaan Februari mencapai US$313 miliar (naik US$17 miliar atau 6% yoy), sementara belanja US$621 miliar (naik US$17 miliar atau 3% yoy). Keduanya disebut sebagai rekor untuk bulan Februari.
Kenaikan penerimaan didorong antara lain oleh lonjakan pajak penghasilan individu yang dipotong (withheld) sebesar US$15 miliar, yang sebagian dikaitkan dengan pembayaran bonus akhir tahun 2025. Namun sebagian tertahan oleh kenaikan refund pajak korporasi US$7 miliar dan refund pajak individu US$6 miliar, yang disebut terkait legislasi pemotongan pajak yang disahkan Partai Republik tahun lalu.
Di pos bea masuk, net customs duties sedikit mendingin ke US$26,6 miliar dari US$27,7 miliar pada Januari dan di atas US$30 miliar pada bulan-bulan terakhir tahun lalu. Pejabat Treasury menegaskan data ini pada dasarnya belum mencerminkan penurunan tarif setelah putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian bea di bawah IEEPA, karena tarif umumnya dibayar dengan jeda sekitar satu bulan. Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) menghentikan penarikan tarif tersebut mulai 24 Februari, dan masih belum jelas bagaimana refund akan tercatat, di tengah persiapan proses refund yang disederhanakan serta penerapan bea sementara 10% untuk 150 hari.
Dari sisi belanja, kenaikan sebagian dipicu oleh bunga utang publik yang naik US$8 miliar atau 9% menjadi US$93 miliar, serta belanja militer yang naik US$6 miliar atau 9% menjadi US$67 miliar. Transmisi utamanya: kenaikan biaya bunga memperkecil fleksibilitas fiskal, sementara perubahan rezim tarif dan proses refund berpotensi menggeser profil penerimaan dalam beberapa bulan berikutnya.
Untuk lima bulan pertama tahun fiskal 2026, Treasury mencatat defisit US$1,004 triliun, turun US$142 miliar atau 12% yoy. Penerimaan naik US$205 miliar atau 11% menjadi US$2,098 triliun, sedangkan belanja naik US$63 miliar atau 2% menjadi US$3,012 triliun. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id