Trump Klaim Rilis Stok IEA Tekan Harga, Minyak Tetap Naik
Presiden AS Donald Trump mengatakan pelepasan cadangan minyak darurat terbesar yang disetujui International Energy Agency (IEA) akan meredakan tekanan harga energi saat Washington berupaya “menyelesaikan pekerjaan” dalam kampanye militernya terhadap Iran. Berpidato di Kentucky pada Rabu malam (11/3), Trump menyebut langkah itu akan “secara substansial menurunkan harga minyak” seiring AS mengakhiri ancaman yang ia nilai membahayakan Amerika dan dunia.
Namun, konfirmasi rilis stok tidak banyak menenangkan pasar yang tetap volatil. Harga minyak mengakhiri sesi Rabu dengan kenaikan lebih dari 4% setelah kembali berayun tajam, sementara AS dan Iran belum menunjukkan tanda meredakan ketegangan. Brent diperdagangkan mendekati US$92 dan minyak AS ditutup sekitar US$87 per barel, ketika retorika perang dan risiko jalur pasok menutupi efek kebijakan stok darurat.
IEA menyetujui pelepasan 400 juta barel dari cadangan darurat—lebih dari dua kali lipat rilis 182 juta barel setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022—dengan konsumsi minyak global sedikit di atas 100 juta barel per hari. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan pelepasan akan diorganisir dalam beberapa hari ke depan. Pada saat yang sama, produsen Teluk sudah memangkas sekitar 6% pasokan global karena Selat Hormuz yang nyaris tak bisa dilalui menahan ekspor dan membuat tangki penyimpanan cepat penuh.
Trump juga mengatakan akan melonggarkan sanksi terkait minyak dan menugaskan Angkatan Laut AS mengawal tanker melalui Hormuz, sambil menyatakan terbuka berbicara dengan Iran. Meski begitu, ia tidak merinci mekanisme maupun jadwalnya, dan menegaskan operasi belum selesai. Saat ditanya soal ranjau di Hormuz, Trump mengatakan “tidak yakin,” meski Reuters melaporkan Iran menempatkan sekitar selusin ranjau di jalur tersebut.
Dampak perang semakin terasa pada rantai logistik dan harga energi domestik AS. Rata-rata nasional harga bensin naik ke US$3,58 per galon, tertinggi sejak Mei 2024 menurut AAA. Di sisi lain, US International Development Finance Corp. mengumumkan Chubb Ltd. bermitra dalam skema reasuransi US$20 miliar untuk membantu menghidupkan kembali pengapalan di Hormuz, sementara Trump disebut mempertimbangkan penggunaan kewenangan era Perang Dingin untuk membuka kembali produksi minyak lepas pantai California selatan.
Di medan konflik, serangan berlanjut pada hari ke-12, dengan laporan kapal-kapal terkena proyektil di Hormuz dan Teluk Persia serta gangguan operasional di Dubai International Airport setelah serangan drone. Iran menyampaikan melalui perantara regional bahwa gencatan senjata mensyaratkan jaminan AS dan Israel tidak akan menyerang lagi di masa depan, sementara Israel menyatakan kampanye berlanjut sampai “kemenangan” dicapai. Dengan korban jiwa yang terus bertambah dan arus energi belum pulih, pasar masih akan memantau eksekusi rilis stok IEA, pemulihan trafik Hormuz, serta sejauh mana langkah Washington mampu meredam premi risiko energi tanpa memperpanjang konflik. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id