Harga Emas Tertahan di US$5.200, Fokus Pasar Beralih ke CPI AS
Harga emas bergerak cenderung stabil di kisaran US$5.190 hingga mendekati US$5.200 per troy ounce pada perdagangan Asia Rabu. Pergerakan ini terjadi setelah pasar sempat bergejolak akibat konflik Timur Tengah, namun mulai mereda setelah muncul sinyal bahwa ketegangan antara AS dan Iran berpotensi tidak berlarut-larut.
Presiden AS Donald Trump mengatakan operasi militer AS di Iran akan segera berakhir, meski belum memberikan jadwal yang jelas. Pernyataan ini ikut menekan harga minyak dan meredakan sebagian kekhawatiran inflasi, sehingga membantu emas bertahan. Meski begitu, pasar masih tetap waspada karena Iran memperingatkan bisa mengganggu ekspor minyak kawasan jika serangan AS dan Israel terus berlanjut. Di sisi lain, Trump juga menegaskan bahwa AS akan merespons keras jika aliran minyak melalui Selat Hormuz sampai terganggu.
Bagi pasar emas, situasi ini menciptakan tarik-menarik sentimen. Di satu sisi, meredanya harga minyak mengurangi tekanan inflasi, yang bisa membantu menjaga kestabilan pasar. Namun di sisi lain, jika konflik kembali memanas atau perang berlangsung lebih lama, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas berpotensi meningkat lagi.
Fokus utama pasar selanjutnya tertuju pada data inflasi AS atau Consumer Price Index (CPI) untuk Februari yang akan dirilis Rabu. CPI utama diperkirakan naik 2,4% secara tahunan, sementara inflasi inti diperkirakan berada di 2,5%. Jika hasilnya lebih tinggi dari perkiraan, dolar AS bisa menguat dan menekan harga emas dalam jangka pendek. Sebaliknya, jika inflasi lebih jinak, emas berpeluang mendapat ruang untuk menguat.(asd)
Sumber: Newsmaker.id