
Trending

Market Update
Sumber: Newsmaker.id
Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan Kamis (17/9), menghapus pelemahan dua sesi sebelumnya. Indeks S&P 500 naik 1,1%, Dow Jones bertambah 316 poin, dan Nasdaq menguat 1,7%. Pemulihan ditopang penurunan harga minyak yang membantu meredakan imbal hasil obligasi Treasury, sehingga memperbaiki sentimen terhadap saham. Trading Economics
Harga minyak dan bahan bakar memangkas sebagian lonjakan sebelumnya setelah Arab Saudi mengisyaratkan kemajuan dalam pemulihan kapasitas pipa East-West. Perkembangan tersebut meredakan kekhawatiran pasokan sekaligus mengurangi sebagian tekanan inflasi energi di tingkat grosir. Turunnya yield turut memberikan ruang pemulihan bagi perusahaan yang sensitif terhadap biaya pendanaan.
Saham perusahaan teknologi besar dan operator pusat data menjadi penopang penguatan pasar. Alphabet naik 1,3%, Microsoft menguat 1,5%, Meta bertambah 1,3%, dan Amazon melaju 2,1%. Oracle mencatat kenaikan lebih besar, yakni 5,1%, di tengah membaiknya sentimen terhadap kelompok saham tersebut.
Produsen semikonduktor juga mencatat lonjakan tajam. Nvidia naik 2,5%, Micron menguat 5,5%, AMD melonjak 6,4%, dan Intel melesat 7,7%. Penguatan ini melanjutkan pemulihan setelah kekhawatiran mengenai keamanan kecerdasan buatan atau AI sempat menimbulkan keraguan terhadap prospek belanja modal AI pada awal pekan.
Meski pasar kembali menguat, arah kebijakan Federal Reserve tetap menjadi perhatian. The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Rabu, sementara proyeksi pejabat FOMC mengarah pada kenaikan tambahan tahun ini. Penguatan saham juga belum merata, dengan sektor keuangan secara umum mencatat pergerakan terbatas.
Menurut analisis Newsmaker, reli Wall Street mencerminkan kelegaan investor terhadap meredanya tekanan energi dan yield, terutama pada saham teknologi yang sensitif terhadap suku bunga. Namun, keberlanjutan penguatan masih bergantung pada pemulihan pasokan minyak dan perkembangan inflasi. Jika harga energi terus turun, tekanan terhadap biaya perusahaan dan valuasi saham dapat berkurang. Sebaliknya, gangguan pasokan baru yang kembali mengangkat minyak berpotensi memperkuat ekspektasi pengetatan The Fed dan membatasi reli.
Sumber: Newsmaker.id