
Trending

Market Update
Sumber: Newsmaker.id
Bursa saham Eropa ditutup menguat pada perdagangan Kamis (17/9/2026), melanjutkan pemulihan dari sesi sebelumnya. Indeks pan-Eropa STOXX 600 naik 0,86% ke level 642,60, seiring membaiknya minat investor terhadap saham setelah keputusan suku bunga Federal Reserve. Investing.com
Penguatan turut terjadi pada indeks utama kawasan. FTSE 100 Inggris naik 1,19%, DAX Jerman menguat 0,77%, dan CAC 40 Prancis bertambah 0,57%. Kenaikan STOXX 600 menjadi yang terbesar dalam lebih dari dua bulan, mencerminkan pulihnya sentimen setelah ketidakpastian menjelang pertemuan The Fed
Sentimen positif ditopang penurunan harga minyak setelah muncul laporan tambahan pengiriman minyak Arab Saudi melalui Oman. Pelemahan imbal hasil Treasury turut meredakan tekanan terhadap valuasi saham, sementara kenaikan bunga The Fed yang telah banyak diperhitungkan pasar tidak memicu gejolak baru. Reuters
Sektor pertambangan logam memimpin kenaikan dengan penguatan 2,1%, disusul otomotif sebesar 1,7%. Saham BMW, Renault, dan Volkswagen ikut menopang pasar. Namun, penguatan tidak merata: saham perusahaan jasa industri Jerman, Bilfinger, merosot 21,4% setelah kembali memangkas proyeksi kinerja tahun ini. Reuters
Dari Inggris, Bank of England mempertahankan suku bunga di 3,75% melalui pemungutan suara 6–3, dengan tiga anggota memilih kenaikan sebesar 25 basis poin. Bank sentral memperingatkan bahwa konflik Timur Tengah dan tingginya harga energi masih berisiko memperbesar tekanan inflasi, sehingga peluang pengetatan kebijakan berikutnya tetap terbuka. Bank of England
Menurut analisis Newsmaker, penguatan bursa Eropa mencerminkan kelegaan investor terhadap meredanya tekanan energi dan obligasi. Minyak yang lebih murah berpotensi membantu menekan biaya perusahaan, sementara penurunan yield mendukung valuasi saham. Namun, keberlanjutan reli masih bergantung pada pemulihan pasokan energi dan perkembangan inflasi. Jika minyak kembali melonjak akibat gangguan di Timur Tengah, ekspektasi kenaikan bunga dapat menguat lagi dan membatasi pemulihan pasar saham.
Sumber: Newsmaker.id