
Trending

Market Update
Sumber: Newsmaker.id
Bursa saham Amerika Serikat melemah pada perdagangan Selasa (8/9), tertekan oleh kenaikan harga energi yang membayangi prospek margin perusahaan dan meningkatkan risiko suku bunga tetap tinggi lebih lama.
S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun 0,4%, sementara Dow Jones melemah hampir 1%. Tekanan muncul ketika investor kembali mencermati dampak konflik geopolitik terhadap harga energi dan arah kebijakan moneter global.
Serangan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran memperpanjang kekhawatiran terhadap gangguan ekspor bahan bakar dari Teluk Persia. Di saat yang sama, serangan kelompok Houthi merusak infrastruktur energi Arab Saudi dan menekan kapasitas produksi negara tersebut.
Kenaikan harga energi menjadi perhatian utama karena dapat meningkatkan tekanan inflasi. Jika inflasi kembali sulit turun, pasar menilai bank sentral, termasuk The Fed, berpotensi mempertahankan sikap hawkish lebih lama.
Biaya pinjaman perusahaan AS juga ikut mendapat tekanan dari sinyal hawkish Bank of Japan dan potensi penjualan surat utang Treasury AS oleh Jepang untuk menopang yen. Kondisi ini membuat saham-saham sensitif terhadap kredit kembali tertekan.
Saham hyperscaler bergerak melemah. Microsoft dan Alphabet masing-masing turun 1%, sementara Amazon juga melemah 1% menjelang penawaran obligasi sterling. Perusahaan AI semakin banyak meminjam dalam mata uang asing karena pasar obligasi dolar sudah menghadapi lonjakan pasokan utang terkait AI.
Di sisi lain, Oracle justru naik 5% menjelang laporan kinerja pekan ini. Kenaikan tersebut menunjukkan investor masih selektif dan tetap mencari peluang pada saham dengan katalis khusus, meskipun sentimen pasar secara umum sedang melemah.
Analisis Newsmaker: Pelemahan Wall Street menunjukkan pasar kembali sensitif terhadap kombinasi kenaikan harga energi, risiko inflasi, dan tekanan yield global. Konflik AS-Iran serta serangan Houthi membuat minyak berpotensi tetap tinggi, sehingga ruang The Fed untuk bersikap lebih dovish menjadi lebih sempit. Jika harga energi terus naik, saham teknologi dan sektor sensitif kredit berisiko kembali tertekan. Namun, saham dengan katalis kuat seperti Oracle masih berpeluang bergerak positif secara selektif. (asd)
Sumber: Newsmaker.id