
Trending

Market Update
Sumber: Newsmaker.id
Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Jumat (4/9) setelah laporan tenaga kerja AS yang jauh lebih kuat dari perkiraan meningkatkan kemungkinan Federal Reserve menaikkan suku bunga pada pertemuan September. S&P 500 turun 0,38% ke 7.718,13, Nasdaq Composite melemah 0,30% ke 26.505,44, sementara Dow Jones turun 0,54% menjadi 53.398,15.
Tekanan muncul setelah ekonomi AS menambahkan 162.000 pekerjaan pada Agustus, hampir tiga kali lipat dari konsensus pasar sebesar 56.000. Data Juni dan Juli juga direvisi naik dengan total tambahan 55.000 pekerjaan. Tingkat partisipasi tenaga kerja meningkat, sementara tingkat pengangguran tetap stabil di 4,1%, memperkuat gambaran bahwa pasar tenaga kerja masih solid.
Data yang kuat sebenarnya mencerminkan kondisi ekonomi yang sehat, tetapi pasar justru melihatnya sebagai alasan bagi The Fed untuk kembali memperketat kebijakan. Ekspektasi kenaikan suku bunga 25 basis poin pada September melonjak menjadi sekitar 58,4%, dari 49,4% sehari sebelumnya. Kekhawatiran semakin besar karena tingginya harga energi akibat konflik geopolitik masih berpotensi menjaga tekanan inflasi.
Di tingkat sektoral, saham semikonduktor menjadi salah satu kelompok yang relatif unggul meski masih turun sekitar 18% sepanjang kuartal. Sebaliknya, saham perangkat lunak dan jasa yang sebelumnya mencatat kenaikan sekitar 25% justru menjadi kelompok yang tertinggal. Perbedaan kinerja tersebut menunjukkan rotasi investor masih berlangsung di tengah perubahan cepat ekspektasi terhadap suku bunga.
Sejumlah saham individual juga mencatat tekanan tajam. Lululemon turun setelah memangkas proyeksi laba dan pendapatan tahunan, sementara Adobe melemah setelah mengumumkan pergantian CEO dari Shantanu Narayen kepada Anil Chakravarthy. Fair Isaac, TransUnion, dan Equifax juga tertekan setelah perubahan kebijakan terkait penggunaan sistem penilaian kredit VantageScore oleh Fannie Mae dan Freddie Mac.
Analisa Newsmaker: Penurunan Wall Street kali ini lebih dipicu oleh perubahan ekspektasi suku bunga daripada kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi. NFP yang kuat sebenarnya positif bagi ekonomi, tetapi menjadi negatif bagi saham karena memperbesar peluang rate hike. Fokus pasar kini beralih ke CPI dan PPI AS pekan depan. Jika inflasi kembali panas, tekanan terhadap saham teknologi dan growth stocks berpotensi berlanjut. Sebaliknya, inflasi yang melandai dapat meredakan kekhawatiran terhadap The Fed dan membuka peluang rebound setelah libur panjang Labor Day.(arl)
Sumber: Newsmaker.id