
Trending

usdjpy
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (8/9). Dollar Index bergerak di sekitar 98,79, turun sekitar 0,13%, sementara tekanan terbesar datang dari yen Jepang. USD/JPY berada di sekitar 153,13 atau turun sekitar 0,80%, setelah yen menembus level terkuat sejak Februari. Pergerakan tersebut memperpanjang reli mata uang Jepang setelah USD/JPY masih berada di atas 160 pada awal September.
Penguatan yen didorong oleh meningkatnya ekspektasi bahwa Bank of Japan akan kembali menaikkan suku bunga pada September. Investor juga terus membongkar posisi carry trade yang sebelumnya memanfaatkan biaya pendanaan rendah dalam yen. Reuters mencatat yen sempat menguat hingga sekitar 153,5 per dolar pada perdagangan Selasa, melewati level yang tercapai ketika Jepang melakukan intervensi pada Juli dan menjadi posisi terkuat sejak Februari.
Di antara mata uang utama lainnya, euro bergerak di sekitar US$1,1625 dan menguat tipis sekitar 0,02% terhadap dolar, menjelang keputusan suku bunga European Central Bank. Poundsterling berada di sekitar US$1,3538 dengan pergerakan nyaris datar, sedangkan dolar Australia berada di kisaran US$0,7214 dan turun sekitar 0,06%.
Dolar juga melemah terhadap beberapa mata uang lainnya. USD/CHF bergerak sekitar 0,8092 atau turun sekitar 0,04%, menunjukkan franc Swiss menguat terhadap greenback. USD/CAD turun sekitar 0,06% ke 1,3806, sementara USD/KRW melemah sekitar 0,36% ke 1.340,20. NZD/USD berada di sekitar US$0,5875 dengan penurunan tipis sekitar 0,03%.
Tekanan terhadap greenback terjadi meskipun data Non-Farm Payrolls AS pekan lalu jauh lebih kuat dari perkiraan. Pasar masih memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September, tetapi investor enggan menambah posisi dolar secara agresif sebelum data inflasi AS dirilis. CPI menjadi katalis utama untuk menentukan apakah The Fed memiliki cukup alasan untuk kembali mengetatkan kebijakan.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak turut menambah ketidakpastian. Brent bergerak di sekitar US$99 per barel, naik hampir 2%, setelah meningkatnya konflik AS-Iran menambah risiko terhadap pasokan energi dari kawasan Teluk. Harga energi yang tinggi dapat memperkuat inflasi dan mendukung suku bunga tinggi, tetapi ekspektasi pengetatan BOJ dan ECB membuat keunggulan kebijakan moneter dolar semakin berkurang.
Analisa Newsmaker: bias dolar masih cenderung bearish selama Dollar Index gagal kembali ke atas 99 dan USD/JPY bertahan di bawah 155. Yen saat ini menjadi tekanan terbesar bagi greenback karena kombinasi ekspektasi kenaikan bunga BOJ dan pembongkaran carry trade. CPI AS menjadi penentu berikutnya; inflasi yang panas dapat memicu rebound dolar, sedangkan angka yang lebih lunak berpotensi memperpanjang penurunan terhadap yen, euro, dan mata uang utama lainnya. (arl)
Sumber: Newsmaker.id