
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS kembali menguat pada perdagangan Rabu (23/9), mencapai level tertinggi dalam hampir dua bulan setelah pasar semakin memperkirakan Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Indeks dolar AS (DXY) naik 0,51% ke level 101,06 setelah sempat menyentuh 101,23, didukung oleh sinyal hawkish The Fed, data ekonomi AS yang kuat, serta meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga energi.
Penguatan dolar berlanjut setelah The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pekan lalu ke kisaran 3,75%-4,00%. Sejumlah pejabat bank sentral AS memberikan sinyal bahwa kenaikan tambahan masih mungkin dilakukan apabila tekanan inflasi belum mereda. Gubernur The Fed Michael Barr mengatakan penyesuaian kebijakan lanjutan kemungkinan diperlukan untuk memastikan inflasi kembali menuju target 2%.
Sentimen tersebut diperkuat oleh data S&P Global Flash US Composite PMI yang meningkat ke level 58,4, tertinggi sejak Juli 2021. Aktivitas bisnis AS yang tetap kuat menunjukkan permintaan masih solid, namun juga meningkatkan tekanan harga melalui kenaikan biaya input dan rantai pasokan. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Oktober meningkat sekitar 70%.
Pergerakan dolar juga didukung oleh meningkatnya risiko geopolitik Timur Tengah setelah pejabat Iran menegaskan Selat Hormuz belum akan dibuka sebelum tuntutan Teheran terpenuhi. Kondisi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan energi dan mendorong harga minyak naik, sehingga memperkuat ekspektasi inflasi serta peluang kebijakan The Fed yang lebih ketat.
Sementara itu, sejumlah mata uang utama mengalami tekanan terhadap dolar AS. EUR/USD melemah sekitar 0,51% ke level US$1,1389 meskipun data PMI zona euro menunjukkan pemulihan ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan. GBP/USD juga berada di bawah tekanan di tengah penguatan dolar dan kekhawatiran terhadap prospek inflasi Inggris. Sementara itu, USD/JPY naik sekitar 0,52% ke level 158,19, mencerminkan pelemahan yen setelah kenaikan suku bunga Bank of Japan belum cukup meningkatkan ekspektasi pengetatan lanjutan.
Mata uang lainnya juga bergerak terbatas. USD/CNH berada di sekitar 6,71, dengan yuan masih menghadapi tekanan menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang menjadi perhatian pasar terkait isu perdagangan, teknologi, dan geopolitik.
Analisis Newsmaker: Dolar AS saat ini mendapatkan dukungan dari kombinasi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, data ekonomi yang kuat, dan meningkatnya risiko inflasi akibat energi. Selama pasar masih melihat peluang pengetatan moneter tambahan, dolar berpotensi tetap menjadi aset pilihan investor dibandingkan mata uang lain. (arl)
Sumber : Newsmaker.id