
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas (XAU/USD) kembali bergerak melemah pada perdagangan Kamis (24/9) setelah tekanan jual berlanjut akibat meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Harga emas spot turun 0,6% ke level US$4.259,43 per troy ounce, sementara kontrak emas berjangka melemah 0,4% ke US$4.301,17 per ounce.
Tekanan terhadap emas terjadi karena investor kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat dari The Fed. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkat karena investor memiliki alternatif aset dengan return lebih tinggi.
Kenaikan harga minyak dunia juga menjadi perhatian pasar setelah Brent kembali bergerak di atas US$100 per barel. Harapan terhadap penyelesaian cepat konflik Amerika Serikat dan Iran mulai berkurang setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya tidak akan membuka jalur pelayaran Selat Hormuz selama sanksi dan blokade AS masih berlangsung.
Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat yang kuat semakin memperkuat tekanan terhadap emas. Aktivitas bisnis AS pada September tumbuh dengan laju tercepat dalam lebih dari lima tahun, menunjukkan ekonomi masih memiliki daya tahan meskipun berada dalam lingkungan suku bunga tinggi.
Ekspektasi kenaikan bunga The Fed juga meningkat signifikan. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada Oktober kini berada di sekitar 77,5%, naik dari 55,4% dalam sepekan terakhir. Sementara peluang kenaikan tambahan pada Desember meningkat menjadi lebih dari 58%.
Newsmaker melihat, emas saat ini menghadapi tekanan dari kombinasi tiga faktor utama: dolar AS yang kuat, kenaikan yield obligasi, dan meningkatnya peluang The Fed kembali menaikkan suku bunga. Namun, risiko geopolitik Timur Tengah masih menjadi faktor penahan karena ketegangan Iran–AS dapat kembali meningkatkan permintaan aset safe haven. Pergerakan emas berikutnya akan sangat bergantung pada arah inflasi AS dan keputusan kebijakan The Fed.
Sumber: Newsmaker.id