
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS menguat hingga 0,5% ke level 102,72 pada perdagangan Rabu (14/10), mencapai posisi tertinggi sejak April 2025. Penguatan terjadi setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan tekanan harga yang masih kuat dan meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan Federal Reserve.
CPI AS meningkat 0,6% secara bulanan pada September, menjadi kenaikan tercepat dalam lima bulan, sementara inflasi tahunan mencapai 3,7%. Meskipun angka headline secara umum sesuai dengan perkiraan, tekanan inflasi inti justru lebih tinggi dari ekspektasi. Core CPI naik 0,3% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan.
Kenaikan Core CPI menjadi perhatian karena menunjukkan tekanan harga yang mendasari masih bertahan. Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh kenaikan harga energi, terutama minyak, yang kembali meningkat akibat eskalasi ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.
Hasil inflasi tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap langkah Federal Reserve berikutnya. Tekanan harga yang persisten dapat membuat The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Namun, Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan Michelle Bowman mengatakan belum melihat kebutuhan untuk segera menaikkan suku bunga kembali setelah kenaikan pada bulan sebelumnya.
Perbedaan pandangan tersebut membuat investor tetap mencermati komunikasi pejabat The Fed dan perkembangan data ekonomi berikutnya. Pasar akan menilai apakah kenaikan inflasi September cukup kuat untuk mendorong perubahan ekspektasi suku bunga atau justru hanya menjadi tekanan sementara akibat kenaikan biaya energi.
Analisis Newsmaker: Penguatan dolar ke 102,72 menunjukkan pasar merespons Core CPI yang lebih panas dari perkiraan. Secara fundamental, kondisi ini menjadi tekanan bagi emas dan aset berisiko karena membuka peluang suku bunga tetap tinggi lebih lama. Namun, pernyataan Bowman menunjukkan bahwa kenaikan inflasi belum otomatis berarti The Fed akan langsung menaikkan suku bunga. Karena itu, arah dolar selanjutnya akan sangat bergantung pada data inflasi berikutnya dan bagaimana pejabat The Fed menerjemahkan tekanan harga saat ini.
Sumber : Newsmaker.id