
Trending

Perak
Sumber: Newsmaker.id
Harga perak (XAG/USD) bergerak melemah pada perdagangan Rabu (14/10), dengan harga berada di sekitar US$58,56 per troy ounce, turun 1,06% dari level US$59,18 pada sesi sebelumnya. Pelemahan tersebut menunjukkan tekanan jual kembali meningkat setelah perak sebelumnya mencatat penguatan.
Pergerakan perak masih dipengaruhi oleh dinamika dolar AS dan ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve. Dolar AS yang relatif kuat dapat memberikan tekanan terhadap logam mulia karena membuat perak menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Sementara itu, kenaikan yield obligasi AS juga dapat mengurangi daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti perak.
Investor kini mencermati arah kebijakan The Fed di tengah ketidakpastian mengenai inflasi AS. Data Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap suku bunga. Inflasi yang lebih tinggi berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dan memberikan tekanan tambahan terhadap harga perak.
Di sisi lain, perak memiliki karakteristik berbeda dibandingkan emas karena selain berfungsi sebagai aset investasi, perak juga banyak digunakan dalam kebutuhan industri. Permintaan dari sektor elektronik, energi terbarukan, dan manufaktur dapat menjadi faktor pendukung harga apabila aktivitas ekonomi tetap kuat. Namun, perlambatan ekonomi global dapat menekan permintaan industri dan membatasi potensi kenaikan.
Pergerakan perak juga perlu dilihat bersama kondisi pasar logam mulia secara keseluruhan. Jika dolar dan yield AS melemah, logam mulia berpotensi mendapatkan kembali minat beli. Sebaliknya, penguatan dolar serta meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi dapat membuat tekanan terhadap XAG/USD berlanjut.
Analisis Newsmaker: XAG/USD saat ini menghadapi tekanan dari kombinasi dolar, yield, dan ketidakpastian arah kebijakan The Fed. Level US$58 menjadi area yang perlu diperhatikan untuk melihat apakah tekanan jual berlanjut atau mulai muncul pembelian kembali. Dalam jangka pendek, data inflasi AS menjadi katalis penting. Inflasi lebih tinggi berpotensi menekan perak, sementara data yang lebih rendah dapat membuka peluang rebound menuju area US$59 dan kembali menguji level yang lebih tinggi.
Sumber : Newsmaker.id