
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS menguat tajam setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan tekanan harga yang lebih luas dari perkiraan. Indeks Dolar AS (DXY) naik 0,68% ke level 102,86, menjadi posisi tertinggi sejak April 2025. Kenaikan tersebut membalikkan pelemahan pada sesi sebelumnya dan memperkuat kembali ekspektasi bahwa Federal Reserve masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga.
Data CPI menunjukkan harga konsumen AS meningkat cukup kuat pada September, terutama akibat lonjakan harga bensin. Namun, perhatian pasar juga tertuju pada inflasi inti yang lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi yang berasal dari energi mulai menyebar ke sektor ekonomi lainnya.
Perubahan ekspektasi suku bunga terlihat setelah rilis data tersebut. Pasar kini memperkirakan peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober sebesar 56%, sementara pasar juga memperhitungkan sekitar 79 basis poin pengetatan hingga akhir 2027. Sebelumnya, komentar dovish sejumlah pejabat The Fed sempat meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga.
Di Eropa, euro kembali berada di bawah tekanan. EUR/USD turun 0,69% ke US$1,1121, sekaligus mencatat level terendah dalam 17 bulan terhadap dolar. Kenaikan harga minyak dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Prancis menjadi faktor tambahan yang membebani mata uang tunggal tersebut. Sementara itu, sterling turun 0,58% ke US$1,3178.
Yen Jepang juga melemah 0,33% ke 158,81 per dolar, menunjukkan tekanan terhadap mata uang Jepang masih tinggi. Pasar kini akan mencermati pernyataan pejabat The Fed, publikasi Beige Book, serta perkembangan kebijakan moneter selanjutnya untuk melihat apakah tekanan inflasi September akan mendorong perubahan lebih lanjut terhadap ekspektasi suku bunga AS.
Sumber: Newsmaker.id