
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas merosot tajam pada hari Rabu (14/10) setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan kenaikan terbesar sejak April. Spot gold sempat anjlok 1,8% hingga berada di bawah US$4.090 per troy ounce setelah CPI AS naik 0,6% pada September. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya biaya bahan bakar.
Tekanan terhadap emas semakin besar karena inflasi inti juga meningkat lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran bahwa Federal Reserve perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat atau bahkan menaikkan suku bunga untuk mengendalikan tekanan harga.
Selain faktor inflasi, meningkatnya serangan di Timur Tengah turut memperbesar kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi regional. Jika harga energi terus meningkat, tekanan inflasi berpotensi bertahan lebih lama dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi, yang menjadi tantangan bagi emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Dolar AS merespons dengan menguat sekitar 0,4%, sementara logam mulia lainnya seperti perak, platinum, dan palladium turut mengalami tekanan. Penguatan dolar dan kenaikan ekspektasi suku bunga membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap logam mulia.
Analisis Newsmaker: Koreksi tajam emas menunjukkan bahwa pasar lebih fokus pada implikasi inflasi terhadap kebijakan The Fed dibandingkan fungsi safe haven emas. CPI yang panas, kenaikan harga energi, dan penguatan dolar menciptakan tekanan bearish dalam jangka pendek. Namun, peluang rebound tetap terbuka jika dolar dan yield mulai melemah atau risiko geopolitik kembali mendorong permintaan safe haven. Untuk saat ini, arah emas sangat bergantung pada pergerakan yield, dolar, dan ekspektasi suku bunga setelah rilis CPI.
Sumber : Newsmaker.id