
Trending

gbpusd
Sumber: Newsmaker.id
Pound sterling menguat tipis terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu (14/10), dengan pasangan GBP/USD berada di sekitar 1,3260 setelah sempat menyentuh level 1,3274. Penguatan pound mulai terbatas karena dolar AS kembali menguat menjelang rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk September. Indeks Dolar AS (DXY) juga bergerak stabil di sekitar 102,20.
Pasar memperkirakan inflasi AS akan kembali meningkat pada September. Danske Bank memproyeksikan inflasi utama berada di 3,6% secara tahunan dari 3,4% sebelumnya, sementara inflasi inti diperkirakan naik menjadi 2,5% dari 2,4%. Kenaikan tersebut terutama diperkirakan berasal dari harga energi. Data CPI menjadi penting karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve.
Saat ini, pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir Oktober, tetapi masih membuka peluang kenaikan pada Desember. Jika CPI AS lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi pengetatan kebijakan dapat kembali menguat dan memberikan dukungan terhadap dolar AS. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah berpotensi mengurangi tekanan terhadap dolar dan memberikan ruang bagi GBP/USD untuk melanjutkan penguatan.
Dari Inggris, perhatian pasar tertuju pada kebijakan fiskal menjelang pengumuman anggaran pada 28 Oktober. Menteri Keuangan Inggris John Healey mengatakan pemerintah akan membiayai paket dukungan biaya hidup melalui kenaikan pajak atau pengurangan belanja publik, bukan dengan menambah utang. Kebijakan tersebut menjadi perhatian karena kondisi fiskal Inggris dapat memengaruhi kepercayaan investor terhadap pound.
Selanjutnya, investor akan mencermati data GDP bulanan Inggris untuk Agustus yang dijadwalkan rilis Kamis. Ekonomi Inggris diperkirakan mengalami kontraksi 0,1% setelah tumbuh 0,4% pada Juli. Kombinasi data GDP Inggris dan CPI AS akan menjadi katalis penting bagi GBP/USD, terutama dalam menentukan apakah penguatan pound dapat berlanjut atau kembali tertahan oleh penguatan dolar.
Analisis Newsmaker: GBP/USD saat ini masih berada dalam fase tarik-menarik antara potensi penguatan pound dan risiko penguatan dolar AS. Jika CPI AS keluar lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dapat menguat sehingga dolar berpotensi menekan GBP/USD kembali. Sebaliknya, CPI yang lebih rendah dapat melemahkan dolar dan membuka ruang bagi pound untuk menguat. Dari sisi Inggris, risiko perlambatan ekonomi setelah GDP diperkirakan kontraksi juga menjadi hambatan bagi pound. Jadi, CPI AS menjadi katalis utama dalam jangka pendek, sementara GDP Inggris menjadi penguji berikutnya bagi kekuatan GBP/USD.
Sumber : Newsmaker.id