
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Dolar AS (DXY) melemah 0,1% ke level 102,09 pada perdagangan Rabu (14/10), melanjutkan penurunan 0,4% pada sesi sebelumnya setelah sempat mencapai level tertinggi sejak April 2025. Pelemahan dolar terjadi ketika investor menilai perubahan nada sejumlah pejabat Federal Reserve serta menunggu rilis data Consumer Price Index (CPI) AS dan Beige Book The Fed.
Euro bergerak menguat 0,1% ke US$1,1208, memulihkan sebagian tekanan setelah sebelumnya berada di dekat level terendah beberapa bulan. Penguatan euro terjadi setelah Presiden European Central Bank (ECB) Christine Lagarde menegaskan bahwa pemerintah Prancis perlu mengatasi defisit anggarannya melalui konsolidasi fiskal domestik, bukan mengandalkan intervensi ECB di pasar obligasi. Pernyataan tersebut sekaligus meredakan spekulasi mengenai potensi perluasan neraca ECB.
Dari Amerika Serikat, komentar Presiden The Fed New York John Williams dan Gubernur The Fed Christopher Waller dinilai lebih dovish oleh pasar. Keduanya menekankan pentingnya menyesuaikan kebijakan moneter dengan kondisi keuangan dan tingginya yield Treasury 10 tahun yang berada di sekitar 5,20%. Pasar kini memperkirakan sekitar 78% peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir Oktober, sementara peluang kenaikan 25 basis poin pada Desember berada di sekitar 85%.
Perhatian utama pasar tertuju pada CPI AS yang diperkirakan menunjukkan kenaikan inflasi utama menjadi 3,6% secara tahunan pada September, dari 3,4% pada Agustus. Investor juga akan mencermati Beige Book serta pernyataan sejumlah pejabat The Fed untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan kemampuan perusahaan menaikkan harga. Data inflasi yang lebih tinggi dapat kembali memperkuat dolar melalui peningkatan ekspektasi kenaikan suku bunga.
Sementara itu, yen bergerak stabil dengan USD/JPY berada di sekitar 158,19, seiring yield AS yang mulai mereda sehingga mengurangi tekanan dari selisih suku bunga kedua negara. Pound sterling justru menguat 0,15% ke US$1,3270, didukung yield obligasi Inggris yang relatif kuat dan ekspektasi kebijakan Bank of England yang masih stabil. Pergerakan mata uang utama kini sangat bergantung pada hasil CPI AS dan perubahan ekspektasi suku bunga The Fed.
Analisis Newsmaker: Dolar AS saat ini mulai kehilangan momentum setelah sebelumnya mencapai level tertinggi 18 bulan, terutama karena nada sejumlah pejabat The Fed mulai lebih hati-hati dan yield Treasury mereda. Namun, pelemahan dolar belum tentu berlanjut karena CPI AS menjadi katalis utama. Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga Desember dapat kembali menguat dan mendorong DXY naik. Sebaliknya, CPI yang lebih rendah berpotensi memperkuat peluang penundaan kenaikan suku bunga dan membuka ruang pelemahan dolar lebih lanjut. Di sisi lain, euro dan pound masih memiliki ruang rebound, sementara yen tetap menghadapi tekanan karena USD/JPY masih berada di level tinggi.
Sumber : Newsmaker.id