
Trending
.jpeg)
Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak merosot pada Senin (26/10) di tengah upaya diplomatik untuk meredakan konflik AS-Israel dengan Iran. Brent turun 1,8% ke US$114,65 per barel, sementara WTI melemah 2,1% ke US$101,06 per barel. Koreksi terjadi setelah kedua benchmark melonjak pada Jumat akibat serangan Houthi yang meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi Arab Saudi.
Harga Brent sebelumnya ditutup di US$116,72 per barel, level penutupan tertinggi sejak akhir April, sekaligus mencatat kenaikan sekitar 6% sepanjang pekan. Sementara itu, WTI mengakhiri pekan dengan penguatan 2,3%. Lonjakan tersebut mencerminkan besarnya premi risiko geopolitik yang masih melekat di pasar minyak.
Serangan Houthi terhadap Arab Saudi masih menjadi faktor penahan penurunan minyak. Kelompok tersebut mengklaim menyerang bandara dan fasilitas minyak Saudi pada akhir pekan, sementara Riyadh menyatakan telah mencegat sejumlah rudal dan drone. Ancaman terhadap infrastruktur energi membuat investor tetap waspada terhadap potensi gangguan pasokan.
Di sisi lain, upaya diplomasi mulai memberikan sedikit tekanan terhadap harga minyak. Mediator Qatar telah menuju Tehran untuk mendorong deeskalasi ketegangan dengan Washington, sementara pejabat senior Arab Saudi, Turki, dan Pakistan juga dijadwalkan bertemu dengan pihak Iran. Perkembangan tersebut meningkatkan harapan bahwa konflik dapat diredakan dan risiko gangguan pasokan berkurang.
Analisis Newsmaker: Koreksi harga minyak saat ini belum menunjukkan hilangnya risiko bullish secara fundamental. Selama serangan terhadap infrastruktur energi Saudi berlanjut dan ketidakpastian keputusan AS terhadap Iran masih tinggi, premi risiko geopolitik berpotensi tetap menopang harga. Sebaliknya, terobosan diplomatik yang konkret dapat membuka ruang koreksi lebih dalam. Pasar kini menghadapi dua katalis utama: perkembangan negosiasi AS-Iran dan potensi eskalasi baru di Timur Tengah.
Sumber : Newsmaker.id