
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia kembali melonjak pada perdagangan Jumat (23/10/2026), setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Minyak mentah Brent menguat 1,2% menjadi US$114,57 per barel pada pukul 18.38 WIB, setelah sebelumnya menyentuh US$115 per barel, level tertinggi sejak 4 Mei. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) naik 1,5% menjadi US$100,95 per barel. Kenaikan tersebut menempatkan Brent di jalur penguatan mingguan ketiga berturut-turut dengan kenaikan sekitar 4,2%, sedangkan WTI masih berpotensi mencatat penurunan mingguan sebesar 0,5%. Penguatan harga terutama dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman yang berpotensi mengganggu distribusi minyak dari kawasan penghasil energi utama dunia.
Ketegangan semakin meningkat setelah Saudi Aramco dilaporkan memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran, dekat Bahrain, pada Kamis, menyusul memburuknya situasi keamanan kawasan. Konflik antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan koalisi pimpinan Arab Saudi kembali menjadi perhatian setelah pertempuran meluas menuju kawasan Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan perdagangan internasional. Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai pasar masih mengkhawatirkan potensi perluasan konflik yang dalam skenario terburuk dapat memicu gangguan pasokan minyak lebih besar. Ketidakstabilan pengiriman serta tingginya biaya transportasi tanker turut memperketat kondisi pasar energi, sehingga memberikan dukungan tambahan terhadap kenaikan harga minyak mentah.
Pelaku pasar kini mencermati sejauh mana konflik Timur Tengah akan memengaruhi aktivitas produksi dan pengiriman minyak, terutama melalui jalur perdagangan energi strategis. Kesimpulan Newsmaker
Kenaikan Brent hingga menyentuh US$115 per barel menunjukkan bahwa risiko geopolitik masih menjadi pendorong utama penguatan harga minyak dunia. Konflik Arab Saudi dan kelompok Houthi meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan energi, terutama di kawasan Laut Merah.
Dari sisi fundamental, tingginya biaya pengiriman dan ancaman gangguan pasokan berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi dalam jangka pendek. Namun, kenaikan lebih lanjut akan bergantung pada seberapa besar gangguan nyata terhadap distribusi minyak.
Dampak terhadap pasar: Harga minyak yang terus meningkat berpotensi memperbesar tekanan inflasi global dan memperkuat ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve. Kondisi tersebut dapat mendukung dolar AS, tetapi menjadi tantangan bagi emas akibat potensi kenaikan imbal hasil obligasi.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia juga berisiko meningkatkan biaya impor energi serta memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah dan biaya produksi domestik.(yds)
Sumber: Newsmaker.id