
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak mentah ditutup menguat pada akhir pekan, dengan Brent mencapai level tertinggi sejak April setelah meningkatnya serangan terhadap Arab Saudi memperbesar kekhawatiran gangguan pasokan energi. Brent naik ke $116.72 per barel atau 3,1% dan catatkan kenaikan lebih dari 6% sepanjang pekan, sementara WTI juga ditutup di atas US$103 per barel.
Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah melancarkan serangan terhadap pelabuhan Yanbu, ladang minyak, dan bandara di Arab Saudi. Eskalasi tersebut memicu kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas di sekitar Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan minyak global. Investor juga cenderung mengurangi posisi jual menjelang akhir pekan untuk mengantisipasi perkembangan geopolitik.
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika telah memberikan tekanan besar terhadap Iran dan mengisyaratkan kemungkinan tindakan lebih lanjut. Laporan mengenai rencana serangan baru AS dan Israel terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS turut menjaga premi risiko geopolitik dalam harga minyak.
Di sisi lain, arus minyak melalui Selat Hormuz dilaporkan telah kembali mendekati level sebelum perang. Namun, pengiriman produk olahan dari kawasan Teluk masih terbatas. Kondisi ini membuat pasar menghadapi situasi yang kompleks, ketika pasokan minyak mentah relatif pulih tetapi produk energi seperti diesel tetap ketat.
Tekanan pasokan juga diperburuk oleh serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia. Sejumlah pemerintah mulai menggunakan cadangan strategis untuk meredam dampak gangguan pasokan, sementara pemerintahan Trump berupaya menekan harga energi domestik melalui sejumlah langkah, termasuk kesepakatan diesel dengan Rusia menjelang pemilu paruh waktu.
Analisis Newsmaker: Harga minyak masih memiliki bias bullish dalam jangka pendek karena premi risiko geopolitik tetap tinggi. Fokus utama pasar adalah apakah eskalasi Timur Tengah mulai mengganggu arus minyak secara nyata. Jika serangan meluas hingga menghambat pasokan atau jalur pelayaran, tekanan kenaikan harga dapat semakin kuat. Sebaliknya, pemulihan arus minyak dan meredanya konflik berpotensi memicu koreksi.
Sumber : Newsmaker.id