
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Senin(26/10), dengan Brent turun mendekati US$109 per barel setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam enam bulan, sementara West Texas Intermediate (WTI) bergerak di sekitar US$101 per barel. Koreksi terjadi ketika pasar menilai kembali perkembangan konflik AS-Iran dan kondisi teknikal yang mulai menunjukkan jenuh beli.
Tekanan teknikal semakin terlihat setelah relative strength index (RSI) 14 hari Brent naik di atas 74 pada Jumat, melewati level 70 yang kerap dipandang sebagai sinyal overbought. Kondisi tersebut membuka peluang aksi ambil untung setelah Brent melonjak lebih dari 85% sepanjang tahun akibat gangguan pasokan dari konflik Timur Tengah.
Meski harga terkoreksi, risiko geopolitik tetap menjadi penopang utama minyak. Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan Washington harus menentukan apakah akan mencapai kesepakatan dengan Teheran atau mengambil langkah lebih keras, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan pihaknya masih berharap serangan baru dapat dihindari. Pertempuran antara Houthi dan Arab Saudi juga kembali meningkat pada akhir pekan.
Pasar semakin berhati-hati menjelang rangkaian agenda besar, mulai dari pemilu Israel, pertemuan Federal Reserve, hingga pemilu sela AS pada awal November. Kekhawatiran bahwa konflik dapat kembali meningkat setelah agenda politik tersebut membuat premi risiko tetap tertanam dalam harga minyak, meskipun arus pasokan melalui Selat Hormuz mulai pulih mendekati tingkat sebelum perang.
Di sisi lain, pemulihan pengiriman minyak dari Timur Tengah dapat membatasi kenaikan harga dalam jangka pendek. Namun, analis menilai eskalasi baru yang mengganggu arus pasokan dapat kembali mendorong Brent lebih tinggi, bahkan membuka pembicaraan mengenai level US$150 per barel jika gangguan pasokan cukup besar hingga memicu penurunan permintaan global.