
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melemah pada Senin(26/10) setelah mencatat kenaikan kuat sepanjang pekan sebelumnya, namun masih bertahan dekat level tertinggi dalam enam bulan. Brent turun -6.24% ke US$110,82 per barel, sementara WTI melemah 2% ke US$101,19 per barel. Koreksi terjadi di tengah harapan meredanya ketegangan AS-Iran, meski serangan terhadap fasilitas dan infrastruktur Arab Saudi masih membuat pasar waspada.
Upaya diplomasi kembali menjadi perhatian setelah mediator dari Qatar menuju Tehran untuk membantu meredakan ketegangan regional dalam koordinasi dengan Amerika Serikat. Para pejabat senior Arab Saudi, Turki, dan Pakistan juga dijadwalkan bertemu dengan pemimpin Iran. Perkembangan tersebut memunculkan harapan bahwa jalur diplomasi dapat mengurangi risiko gangguan pasokan energi.
Namun, risiko pasokan belum sepenuhnya mereda karena serangan Houthi terus berlanjut sepanjang akhir pekan. Kelompok tersebut mengklaim menyerang stasiun pemompaan pipa minyak mentah Timur-Barat Arab Saudi serta Bandara Riyadh. Arab Saudi juga melaporkan berhasil mencegat sejumlah rudal dan drone, sehingga risiko terhadap infrastruktur energi masih menjadi perhatian pasar.
Gangguan terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb juga terus membayangi pasar energi. Data Washington Institute menunjukkan Oktober menjadi periode terburuk bagi serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya. Kondisi ini berpotensi menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi meskipun harga minyak mengalami koreksi.
Di sisi lain, Saudi Aramco berencana mulai menyimpan minyak mentah di Singapura pada paruh kedua 2027 untuk memperkuat ketahanan rantai pasok regional. Kepala IEA Fatih Birol juga memperingatkan bahwa pasar energi pada 2027 belum tentu kembali ke kondisi sebelum perang Iran. Dengan demikian, koreksi minyak saat ini masih berpotensi terbatas selama risiko serangan dan gangguan pasokan belum benar-benar mereda.