
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak kembali melemah pada perdagangan Selasa (25/8) setelah sebelumnya turun lebih dari 2% pada sesi Senin. Brent turun sekitar 1,0% ke US$91,27 per barel, sementara WTI melemah 0,9% ke US$84,25. Penurunan ini memperpanjang koreksi setelah harga minyak sempat reli kuat dalam dua pekan sebelumnya.
Tekanan utama datang dari respons pasar yang relatif datar terhadap perluasan sanksi AS terhadap Iran. Investor menilai langkah Washington belum cukup konkret untuk langsung mengganggu pasokan minyak global, terutama karena belum ada daftar negara sasaran maupun jadwal penerapan sanksi yang jelas.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya memperingatkan negara-negara yang tetap berbisnis dengan Iran dapat kehilangan akses ke sistem keuangan berbasis dolar. Namun, keputusan untuk memberikan waktu bagi negara-negara tersebut agar menyesuaikan diri membuat pasar melihat tekanan ini lebih sebagai proses bertahap daripada ancaman pasokan langsung.
Di sisi lain, fokus AS yang semakin bergeser ke tekanan ekonomi juga sedikit mengurangi kekhawatiran akan eskalasi militer langsung. Meski Menteri Pertahanan AS menyatakan opsi militer belum sepenuhnya ditutup, pasar menilai risiko gangguan besar terhadap produksi dan pengiriman minyak Timur Tengah saat ini lebih rendah dibanding beberapa pekan sebelumnya.
Analisis Newsmaker: bias minyak jangka pendek masih cenderung bearish-konsolidatif karena pasar belum melihat bukti bahwa sanksi baru akan langsung memotong pasokan. Namun, risiko tetap ada jika implementasi sanksi mulai menyasar pembeli utama minyak Iran atau jika konflik kembali bergeser ke jalur militer. Selama Brent belum kembali menembus US$92–US$93, tekanan jual masih berpeluang berlanjut.(yds)
Sumber: Newsmaker.id