
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Iran memberi sinyal siap meningkatkan eskalasi konflik dengan Amerika Serikat setelah tekanan militer dan ekonomi terhadap Teheran semakin besar. Sejumlah analis menilai pemerintah Iran kini melihat eskalasi sebagai salah satu alat tawar utama untuk mempertahankan pengaruhnya, terutama di Selat Hormuz.
Tekanan meningkat setelah militer AS menghancurkan sejumlah tanker minyak Iran sebagai balasan atas upaya serangan terhadap kapal perang Amerika. Sebelumnya, Iran juga mulai menyerang aset militer AS secara langsung, menunjukkan perubahan strategi dari respons terbatas menuju tindakan yang lebih agresif.
Di dalam negeri, tekanan ekonomi menjadi faktor penting. Blokade laut AS membatasi ekspor minyak Iran yang menjadi sumber utama pendapatan negara, sementara kekurangan bahan bakar, inflasi tinggi, pengangguran, dan pelemahan mata uang memperbesar risiko ketidakstabilan domestik.
Iran juga berupaya memperketat kontrol terhadap jalur pelayaran di Teluk Persia. Teheran mengumumkan rencana membentuk zona pelayaran terbatas yang dapat meningkatkan risiko bagi kapal yang melintas dengan pengawalan militer AS. Langkah tersebut berpotensi kembali memperbesar gangguan perdagangan energi melalui Selat Hormuz.
Meski Iran masih membuka kemungkinan kembali ke jalur diplomasi, Washington sejauh ini mempertahankan strategi tekanan ekonomi dan militer. Kedua pihak kini berusaha menguji batas masing-masing, sehingga risiko bentrokan yang lebih besar tetap terbuka apabila salah satu pihak salah menghitung respons lawan.
Eskalasi Iran–AS berpotensi menjaga premi risiko di pasar energi tetap tinggi. Jika Iran meningkatkan tekanan terhadap jalur Hormuz atau fasilitas energi regional, harga minyak dapat kembali melonjak dan memperbesar kekhawatiran inflasi global. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS dan emas, meski dampaknya terhadap gold tetap akan bergantung pada pergerakan suku bunga dan yield AS.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id