
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperkirakan serangan terbaru terhadap Iran tidak akan berlangsung lama. Ia juga kembali mengeklaim AS menguasai Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi pusat konflik kedua negara.
Militer AS melancarkan gelombang serangan kedua dalam tiga hari dengan menargetkan radar dan kemampuan penebaran ranjau di pesisir selatan Iran. Trump mengeklaim seluruh peralatan baru yang dibangun Iran di sekitar Hormuz telah dihancurkan.
Meski menyebut kampanye tersebut akan berlangsung singkat, Trump menegaskan Washington siap kembali menyerang kapan saja. Iran membalas dengan meluncurkan drone dan rudal ke sejumlah pangkalan AS di Timur Tengah.
Pemerintah Iran menuding serangan AS menghantam sebuah pesta pernikahan di kota pesisir Sirik. Bulan Sabit Merah Iran melaporkan sedikitnya empat orang tewas dan sekitar 67 lainnya terluka, tetapi laporan tersebut belum dikonfirmasi secara independen. Militer AS membantah menjadikan warga sipil sebagai target.
Pernyataan Trump membuat minyak Brent turun 0,6% ke sekitar US$95,10 per barel setelah sebelumnya menyentuh US$97. Namun, harga minyak acuan internasional tersebut masih melonjak sekitar 58% sepanjang tahun ini akibat konflik dan terganggunya arus energi kawasan.
Pertempuran terbaru mengakhiri masa tenang selama sekitar satu bulan, ketika pengiriman minyak melalui Hormuz sempat pulih menjadi hampir separuh volume sebelum perang. Upaya diplomasi masih buntu setelah kesepakatan damai sementara runtuh pada Juni dan kedua pihak belum menunjukkan kesiapan untuk kembali berunding.
Pernyataan Trump mengenai operasi singkat berpotensi menekan premi risiko sehingga Brent dapat terkoreksi menuju US$93–US$94 dan emas kehilangan sebagian dukungan safe haven. Namun, jika AS kembali menyerang atau Iran mengganggu pelayaran Hormuz, Brent berpeluang menguji US$97–US$100 dan emas dapat sedikit menguat, meski lonjakan inflasi serta yield obligasi berpotensi membatasi kenaikannya.