
Trending

Fiskal & Moneter
Sumber: Newsmaker.id
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal kepercayaan kepada Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di tengah meningkatnya spekulasi bahwa bank sentral AS dapat kembali menaikkan suku bunga. Trump mengatakan dirinya sangat menghormati Warsh dan menilai Ketua The Fed tersebut akan melakukan apa yang memang perlu dilakukan terkait kebijakan suku bunga.
Pernyataan tersebut menarik perhatian pasar karena Trump selama ini secara konsisten mendorong suku bunga yang lebih rendah. Trump kembali mengatakan bahwa menurut pandangannya, Amerika Serikat seharusnya memiliki tingkat suku bunga yang jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara lain.
Namun, Warsh baru-baru ini menyampaikan nada yang lebih hawkish. Ia mengatakan Federal Reserve masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila para pembuat kebijakan belum memperoleh keyakinan bahwa inflasi bergerak secara berkelanjutan menuju target 2%. Pernyataan tersebut membuat pasar meningkatkan ekspektasi terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut.
Tekanan inflasi masih menjadi persoalan utama bagi The Fed. Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi ukuran inflasi pilihan bank sentral, tercatat sebesar 3,7% secara tahunan pada Juli, masih jauh di atas target inflasi 2%. Kondisi tersebut memberikan alasan bagi The Fed untuk tetap berhati-hati sebelum mengubah arah kebijakan.
Pasar kini semakin fokus pada pertemuan Federal Reserve berikutnya pada September. Berdasarkan pergerakan pasar terbaru, peluang kenaikan suku bunga September berada di sekitar 66%, sementara probabilitas kenaikan hingga Desember bahkan mencapai sekitar 89%.
Analisa Newsmaker :
Sikap Trump terhadap Warsh menunjukkan bahwa Gedung Putih untuk sementara memberikan ruang lebih besar bagi The Fed untuk menentukan kebijakan berdasarkan kondisi inflasi dan ekonomi. Ini cukup berbeda dari tekanan Trump sebelumnya yang secara terbuka menginginkan kebijakan suku bunga rendah.
Bagi pasar, komentar tersebut dapat memperkuat keyakinan bahwa peluang kenaikan suku bunga September tetap terbuka. Jika data tenaga kerja dan inflasi AS kembali kuat, ekspektasi hike dapat semakin meningkat, sehingga berpotensi mendukung dolar AS dan yield Treasury serta memberikan tekanan terhadap emas.
Sebaliknya, jika data ekonomi mulai melemah, The Fed akan memiliki alasan lebih besar untuk menahan suku bunga. Karena itu, rangkaian data tenaga kerja AS pekan ini akan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah dukungan Trump terhadap independensi keputusan Warsh benar-benar berujung pada kenaikan suku bunga atau tidak.(CP)