
Trending

Fiskal & Moneter
Sumber: Newsmaker.id
Dolar Amerika Serikat kembali menguat setelah Gubernur Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal bahwa bank sentral kemungkinan masih perlu menaikkan suku bunga untuk memastikan inflasi kembali menuju target 2%. Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa kebijakan moneter ketat AS masih akan berlanjut.
Barr mengatakan risiko terhadap pencapaian target inflasi meningkat, sementara kondisi pasar tenaga kerja masih cukup kuat. Menurutnya, The Fed perlu melakukan penyesuaian kebijakan agar inflasi dapat kembali terkendali secara berkelanjutan tanpa kehilangan momentum pertumbuhan ekonomi.
Komentar tersebut memperkuat pandangan bahwa The Fed masih memprioritaskan pengendalian inflasi dibandingkan risiko pelemahan pasar tenaga kerja. Sikap hawkish Barr menambah daftar pejabat The Fed yang mendukung kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan apabila tekanan harga belum menunjukkan penurunan yang konsisten.
Respons pasar langsung terlihat pada pergerakan dolar AS. Indeks dolar (DXY) mempertahankan momentum penguatan dan naik sekitar 0,5% ke atas level 101,00, mencapai posisi tertinggi sejak akhir Juli. Investor meningkatkan permintaan terhadap aset dolar karena ekspektasi imbal hasil yang lebih tinggi dari kebijakan The Fed.
Newsmaker melihat, komentar Barr kembali memperkuat narasi "higher for longer" yang menjadi pendorong utama dolar saat ini. Penguatan USD berpotensi memberikan tekanan terhadap aset non-yield seperti emas dan mata uang berisiko. Namun, pasar tetap akan mencermati data ekonomi berikutnya serta perkembangan inflasi untuk menentukan apakah The Fed benar-benar akan melanjutkan kenaikan suku bunga atau mulai mengubah arah kebijakan.
Sumber: Newsmaker.id