
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Pemimpin China Xi Jinping menegaskan pentingnya hubungan kerja sama dengan Amerika Serikat dalam pertemuannya di Gedung Putih pada Kamis (24/9), dengan menyoroti komunikasi, kecerdasan buatan (AI), kerja sama penegakan hukum, serta perlakuan yang adil terhadap perusahaan China. Dalam pernyataannya, Xi tidak menyinggung isu tarif secara langsung, sementara fokus utama pertemuan lebih diarahkan pada stabilitas hubungan kedua negara.
Meskipun demikian, perhatian pasar tetap tertuju pada perkembangan kesepakatan dagang antara Washington dan Beijing. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan gencatan dagang yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada November kini diperpanjang hingga 10 Januari. Perpanjangan tersebut menjaga tarif barang China tetap tidak kembali meningkat, namun periode tambahan ini masih lebih pendek dibandingkan ekspektasi pasar sebelumnya.
Dari sisi mata uang, dolar AS masih mendapat dukungan dari ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, sementara yuan China menghadapi tekanan setelah Bank Sentral China (PBoC) menghentikan penguatan nilai tengah yuan setelah melakukan intervensi selama beberapa sesi sebelumnya. Pasangan USD/CNH bergerak naik dalam beberapa perdagangan terakhir, mencerminkan pelemahan yuan terhadap dolar.
Xi menyampaikan bahwa China dan AS merupakan dua negara besar yang memiliki tanggung jawab dalam mendorong perkembangan global. Ia mengatakan Beijing terbuka untuk memperluas kerja sama, termasuk di sektor teknologi, investasi, dan pengembangan AI, namun tetap menekankan pentingnya persaingan yang sehat dengan batasan yang jelas.
Selain isu ekonomi, Xi juga mendorong peningkatan komunikasi antara kedua negara di bidang diplomasi, perdagangan, keamanan, dan militer. Ia menyebut hubungan personal dengan Presiden Donald Trump dapat menjadi dasar untuk membangun kepercayaan dan menjaga stabilitas hubungan bilateral.
Analisis Newsmaker: Pertemuan Trump-Xi memberikan sinyal positif bagi hubungan AS-China, tetapi pasar masih menunggu bukti konkret terkait tarif, teknologi, dan perdagangan. Perpanjangan gencatan dagang mengurangi risiko eskalasi dalam jangka pendek, namun durasi yang terbatas menunjukkan bahwa negosiasi lanjutan masih menjadi faktor utama yang menentukan arah aset global, termasuk dolar, yuan, saham, dan komoditas.
Sumber: Newsmaker.id