Wall Street Tertekan, Minyak dan Obligasi Jadi Beban
Kontrak berjangka saham Amerika Serikat melemah pada perdagangan Kamis(20/8), seiring imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali naik setelah sempat turun pada sesi sebelumnya. Tekanan ini muncul setelah pasar mencermati langkah Departemen Keuangan AS yang mengumumkan rencana pembelian kembali utang.
Dow Jones Industrial Average futures turun 439 poin atau 0,8%. Sementara itu, S&P 500 futures melemah 0,4%, dan Nasdaq-100 futures turun 0,6%, menunjukkan sentimen investor kembali berhati-hati terhadap aset berisiko.
Imbal hasil Treasury AS kembali naik setelah sempat mereda pada Rabu. Yield tenor 10 tahun naik lebih dari 5 basis poin ke 4,704%, sementara yield tenor 30 tahun naik 6 basis poin ke 5,254%. Kenaikan ini terjadi setelah yield 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi dalam hampir 20 tahun pada awal pekan.
Sentimen negatif juga datang dari kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan AS-Iran. Presiden Donald Trump mengatakan AS akan memulai operasi ekonomi besar terhadap Iran, yang disebutnya sebagai perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Harga minyak ikut melonjak setelah pernyataan tersebut. Kontrak berjangka West Texas Intermediate atau WTI naik 3% ke atas US$88 per barel, sementara Brent crude menguat 3% ke atas US$94 per barel. Kenaikan minyak kembali memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi energi dan arah kebijakan suku bunga The Fed.
Tekanan tambahan datang dari saham Walmart yang turun lebih dari 6% setelah penjualan sebanding di AS tidak mencapai ekspektasi analis. Dari sisi dampak market, kombinasi kenaikan yield, harga minyak, dan ketegangan geopolitik dapat menahan reli saham AS dalam jangka pendek. Jika yield jangka panjang terus naik, saham teknologi dan sektor sensitif suku bunga berpotensi kembali tertekan.(gn)
Sumber: Newsmaker.id