Krisis Iran Dorong Brent ke Level Tertinggi 3 Pekan
Harga minyak melonjak pada perdagangan Kamis (20/8) dan mencapai level tertinggi dalam tiga pekan, didorong kekhawatiran bahwa kebuntuan perang Iran akan terus mengganggu pasokan dari kawasan Timur Tengah. Brent kontrak Oktober naik sekitar 3,1% ke US$94,42 per barel, sementara WTI September menguat ke US$88,67 per barel. Kedua benchmark mencatat kenaikan untuk sesi kelima berturut-turut.
Sentimen bullish semakin kuat setelah Uni Emirat Arab memutuskan menghentikan seluruh transaksi keuangan dan ekonomi dengan Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut. Langkah tersebut kembali menyoroti memburuknya hubungan antara Teheran dan salah satu produsen minyak utama di kawasan Teluk.
Ketegangan AS-Iran juga belum menunjukkan tanda mereda. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menegaskan Selat Hormuz telah terbuka. Namun, Teheran memberikan versi berbeda dengan menyebut jalur tersebut masih ditutup. Trump juga memperingatkan konsekuensi ekonomi bagi negara mana pun yang memberikan dukungan kepada Iran.
Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih sangat rendah dibandingkan kondisi sebelum perang. Sebelum konflik dimulai pada akhir Februari, jalur tersebut menangani volume minyak setara sekitar seperlima konsumsi global. Terbatasnya arus tanker membuat pasar terus memasukkan premi risiko geopolitik yang lebih besar ke dalam harga minyak.
Gangguan pasokan juga mulai terlihat pada produk olahan. Data Energy Information Administration menunjukkan stok distilat AS, termasuk diesel dan heating oil, turun untuk pekan ketiga berturut-turut. Namun, persediaan minyak mentah AS justru secara tak terduga naik 4,4 juta barel, menjadi salah satu faktor yang berpotensi membatasi reli lebih lanjut.
Analisis Newsmaker: momentum minyak masih cenderung bullish kuat selama kebuntuan di Hormuz dan konflik Iran belum mereda. Brent yang sudah menembus US$94 membuka peluang menguji area US$95, bahkan level yang lebih tinggi jika arus pasokan semakin terganggu. Namun, setelah lima sesi kenaikan beruntun dan adanya kenaikan stok crude AS, risiko profit taking tetap perlu diwaspadai jika muncul tanda-tanda deeskalasi. (arl)
Source: Newsmaker.id