Saham Asia Melemah, Talks AS–Iran Mandek!
Bursa Asia dibuka melemah seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa pembicaraan AS–Iran belum menunjukkan kemajuan berarti untuk meredakan konflik Timur Tengah, sementara Selat Hormuz tetap efektif tertutup. MSCI Asia Pacific turun 0,1% pada awal perdagangan, mencerminkan sikap hati-hati investor terhadap risiko pasokan energi dan dampaknya ke inflasi.
Di sisi global, Wall Street bergerak terbatas pada Kamis, namun Nasdaq 100 futures naik 0,6% pada awal Jumat setelah laporan kinerja Intel memicu optimisme. Saham Intel melonjak 19% di perdagangan setelah jam bursa setelah proyeksi penjualan melampaui ekspektasi, sementara saham semikonduktor menjadi outlier dengan kenaikan beruntun hingga 17 sesi.
Risk appetite melemah ketika minyak kembali menguat. Brent dibuka naik 1,1% ke $106,20 per barel pada Jumat, didorong premi geopolitik karena ketidakjelasan kapan arus Hormuz bisa pulih. Indeks dolar bertahan menguat dan menuju performa bulanan terbaiknya, sementara Treasuries mempertahankan pelemahan setelah harga minyak yang lebih tinggi kembali memunculkan kekhawatiran inflasi.
Pasar menilai arah berikutnya akan sangat ditentukan oleh apakah ketegangan beralih ke diplomasi atau kembali eskalatif. Pelaku pasar memantau sinyal dari Washington dan Teheran, termasuk perkembangan lapangan di Hormuz, karena gangguan berkelanjutan berisiko menjaga minyak di level tinggi dan menekan prospek pertumbuhan global. Sejumlah analis menilai selama arus di selat masih terbatas, pengetatan pasokan akan berlanjut dan harga minyak tetap didukung.
Di luar ekuitas dan minyak, yen datar pada awal Jumat setelah melemah empat sesi beruntun, sementara Menteri Keuangan Jepang menyatakan otoritas memantau pergerakan spekulatif yang menjaga yen lemah. Emas dibuka relatif stabil setelah turun pada sesi sebelumnya, dan Bitcoin bergerak datar di sekitar $78.000.
Ke depan, pasar tetap headline-driven: perkembangan talks AS–Iran, status pelayaran Hormuz, dan respons kebijakan akan menjadi penentu utama pergerakan lintas aset. Di sisi fundamental, musim laporan keuangan masih memberi bantalan karena sekitar 80% emiten acuan ekuitas AS sejauh ini melampaui estimasi laba kuartal pertama, namun sensitivitas terhadap minyak dan inflasi tetap tinggi selama risiko geopolitik belum mereda.(Asd)
Sumber: Newsmaker.id