Wall Street Terkoreksi, Risiko Inflasi Energi Kembali Menguat
Saham AS melemah pada Kamis (26/3), memangkas sebagian reli pekan ini ketika investor menilai eskalasi serangan di Timur Tengah dan potensi dampak inflasi dari konflik. S&P 500 dan Dow Jones turun sekitar 0,8%, sementara Nasdaq melemah lebih terbatas sekitar 0,4%, mencerminkan pergeseran kembali ke mode risk-off.
Tekanan meningkat setelah Teheran menolak dorongan AS untuk pembicaraan gencatan senjata, meredupkan harapan perang segera berakhir. Penolakan ini memperkuat pandangan bahwa ekspor energi melalui Selat Hormuz berisiko tetap terganggu, menjaga premi risiko minyak dan memicu kekhawatiran inflasi biaya.
Di pasar obligasi, yield Treasury kembali naik ketika harga energi menguat, menekan sektor yang sensitif terhadap biaya pendanaan serta saham teknologi berkapitalisasi besar. Sentimen terhadap tema AI juga melemah karena investor mengurangi posisi spekulatif di tengah ketidakpastian makro.
Saham-saham mega-cap ikut turun, dengan Tesla, Microsoft, Amazon, dan Meta melemah sekitar 1,5%–3%. Pergerakan ini memperlihatkan koreksi menyebar ke saham-saham yang sebelumnya menjadi penopang indeks.
Di sisi korporasi, Jefferies naik tipis meski mengangkat isu tekanan dari private credit dalam laporan keuangannya. Sementara Equitable Holdings dan Corbridge menguat sekitar 2% setelah mengumumkan rencana merger berbasis saham dengan valuasi gabungan sekitar US$22 miliar, menjadi salah satu titik terang di tengah pelemahan pasar yang lebih luas.(yds)
Sumber: newsmaker.id