Trump Ancam Serangan Lanjutan ke Iran, Gencatan Timur Tengah Makin Rapuh
Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan menyerang Iran setelah menuduh Teheran terlalu lama menunda pembicaraan damai sementara. Pernyataan itu menambah tekanan pada gencatan senjata yang sudah rapuh selama dua bulan terakhir dan membuka risiko eskalasi militer yang lebih luas antara AS dan Iran.
Trump mengatakan AS telah menyerang Iran pada Selasa malam dan akan melanjutkan serangan berikutnya. “Kami akan menyerang mereka, menyerang mereka dengan sangat keras,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Rabu. Ia tidak menjelaskan target mana yang akan disasar, tetapi menegaskan bahwa Washington akan terus menekan Teheran sampai kesepakatan tercapai.
Pernyataan tersebut langsung menekan sentimen pasar. S&P 500 memperpanjang penurunan hingga lebih dari 1%, sementara harga minyak naik lebih dari 2%, dengan Brent mendekati US$94 per barel. Pasar khawatir eskalasi AS–Iran dapat memperpanjang gangguan di Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman energi global.
Meski begitu, Trump juga berusaha meredakan kekhawatiran pasar dengan mengatakan AS membantu kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz. Ia mengklaim langkah tersebut membantu menjaga harga minyak tetap relatif terkendali. Namun bagi investor, risiko utamanya tetap sama: semakin lama konflik berlangsung, semakin besar tekanan pada pasokan energi, inflasi, dan ekspektasi suku bunga global.
Eskalasi terbaru terjadi setelah Trump memerintahkan serangan balasan terhadap Iran atas dugaan penembakan jatuh helikopter Apache AS di dekat Selat Hormuz. Teheran belum mengonfirmasi klaim tersebut dan mengatakan sedang meninjau kembali kelanjutan negosiasi setelah serangan AS. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan proses diplomatik membutuhkan ruang minimum untuk bergerak, sementara militer Iran akan merespons jika diperlukan.
Militer AS mengatakan operasi terbaru menargetkan sistem pertahanan udara, stasiun kendali darat, dan radar Iran di dekat Selat Hormuz. Di sisi lain, Garda Revolusi Iran dilaporkan meluncurkan misil ke beberapa target Amerika, termasuk fasilitas yang menampung jet F-35 dan pusat komando militer AS di Yordania. Iran juga menyebut telah mengirim drone ke pangkalan utama Angkatan Laut AS di Bahrain dan menyerang pangkalan udara Ali Al Salem di Kuwait.
Kuwait menyatakan telah mencegat proyektil pada Rabu pagi, sementara Yordania mengatakan berhasil mencegat lima misil Iran. Belum ada laporan langsung mengenai korban jiwa dari rangkaian serangan tersebut. Iran menyebut tindakannya sebagai hak membela diri dan memperingatkan negara-negara kawasan agar tidak mengizinkan wilayah mereka digunakan AS atau Israel untuk menyerang Iran.
Dari sisi diplomasi, negosiasi masih berjalan melalui perantara, termasuk Pakistan dan Qatar. Namun hambatan utama tetap besar. Iran menuntut pencairan lebih dari US$10 miliar dana yang dibekukan di luar negeri, sementara belum jelas apakah Teheran bersedia mencairkan atau mengirim stok uranium yang diperkaya tinggi ke negara lain.
Konflik juga makin rumit karena melibatkan Israel dan Lebanon. Iran sebelumnya menembakkan misil ke Israel setelah Israel menyerang milisi Hezbollah dan infrastruktur di Beirut. Israel kemudian membalas, meski Trump disebut telah meminta Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menahan serangan lanjutan. Iran dan Israel sempat sepakat menghentikan serangan pada Senin, tetapi stabilitasnya tetap rentan.
Bagi pasar global, inti masalahnya bukan hanya risiko militer, tetapi dampaknya terhadap energi dan inflasi. Jika konflik membuat arus minyak melalui Hormuz kembali terganggu, harga energi bisa bertahan tinggi dan menambah tekanan inflasi. Kondisi itu dapat membuat bank sentral lebih sulit melonggarkan kebijakan, sekaligus menjaga volatilitas di saham, obligasi, komoditas, dan mata uang.(Arl)
Sumber : Newsmaker.id