PPI-CPI Cina menyimpang, Tekanan Global Meningkat
Inflasi konsumen di Cina melambat pada Mei 2026 dengan Indeks Harga Konsumen (CPI) hanya naik 1,2% YoY, meleset dari perkiraan 1,3%. Namun, inflasi produsen (PPI) justru melonjak 3,9% YoY, memicu kenaikan biaya energi, chip, dan logam non-ferrous. Keseimbangan antara PPI dan CPI tercatat terbesar sejak Juni 2022, menandakan tekanan biaya masih sulit dipertahankan ke konsumen.
Pelemahan permintaan domestik membuat produsen kesulitan menaikkan harga barang, sehingga margin industri mengalami kompresi. Meski harga energi dan bahan baku melonjak akibat perang Iran dan ledakan investasi AI, harga barang konsumen utama tetap terkendali, bahkan beberapa kategori, seperti daging babi, mencatat penurunan yang signifikan.
Core CPI, yang memenuhi harga makanan dan energi, naik 1,1% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya 1,2%. Sementara itu, harga bahan baku untuk industri elektronik, logam, dan energi melonjak hingga dua digit, memicu kenaikan biaya produksi di sektor manufaktur dan pertambangan.
Peningkatan harga input yang tajam berdampak pada produsen logam, minyak, dan gas, sehingga harga output pabrik naik signifikan, namun belum sepenuhnya disesuaikan dengan konsumen. Hal ini membuat keuntungan perusahaan tertekan meski konsumsi rumah tangga belum terdampak.
Analis ekonomi memproyeksikan kondisi ini akan menahan inflasi konsumen tetap rendah sementara biaya industri tetap tinggi. “Cina bergerak dari deflasi inflasi yang rendah, namun keuntungan dan upah di banyak industri masih tertekan,” kata Lynn Song, Kepala Ekonom ING Bank. Lonjakan harga energi dan bahan baku global semakin menambah perlindungan ekonomi.
Dampaknya terhadap pasar global cukup nyata: harga emas cenderung naik karena kekhawatiran inflasi dan gejolak energi, harga minyak tetap tinggi seiring permintaan dan pasokan yang ketat, sedangkan dolar menguat terhadap sebagian mata uang Asia karena investor mencari safe-haven di tengah penayangan produksi dan harga global.(asd)
Sumber: Newsmaker.id