Yen Jadi Primadona Safe Haven Saat Risk-Off Makin Dalam
Yen menguat dan memimpin pergerakan aset safe-haven ketika gelombang risk-off semakin dalam, menyusul aksi jual tajam di saham dan komoditas yang berlanjut sejak semalam. Kondisi ini mendorong investor keluar dari mata uang berisiko dan kembali ke aset yang dianggap lebih aman.
Di pasar valas, USD/JPY turun 0,3% ke 156,60, setelah sebelumnya dolar ditutup menguat selama lima hari beruntun pada Kamis. Di sisi lain, dolar Australia (Aussie) melemah 0,4% ke 0,6900, dengan tekanan tambahan terkait aktivitas opsi besar yang disebut dipenuhi oleh penjual berleverage, menurut trader FX berbasis Asia.
Sementara itu, Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,1% dan berpotensi mencatat kenaikan hari ketiga berturut-turut. Pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) terpantau bervariasi namun relatif stabil, menandakan pasar masih “wait and see” sambil membaca arah risiko berikutnya.
Dari sisi komoditas, perak kembali tertekan: harganya sempat turun hingga 9%, melanjutkan penurunan hampir 20% pada Kamis. Penurunan ini diperparah oleh tanda-tanda pelemahan di pasar tenaga kerja AS, yang ikut memperdalam retreat dari saham dan komoditas sekaligus meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve bisa mengambil langkah pelonggaran kebijakan.
“Kondisi pasar saat ini sangat tegang, sampai-sampai yen tetap dicari meski ada ketidakpastian pemilu akhir pekan ini,” ujar Nick Twidale, Chief Market Analyst di AT Global Markets. Ia menambahkan, dana investor kini lebih fokus pada risiko paling dekat—apakah logam dan saham bisa menemukan “dasar” penurunan—sehingga mata uang safe-haven cenderung tetap diburu.
Di pasar saham, kontrak berjangka S&P 500 mini turun 0,5%, sementara indeks Nikkei 225 di Jepang sempat merosot hingga 1,6%. Di G10 lain, EUR/USD stabil di 1,1779 dan GBP/USD datar di 1,3527.
Untuk mata uang komoditas lainnya, NZD/USD turun 0,1% ke 0,5942, memperkuat sinyal bahwa investor masih memilih defensif di tengah volatilitas yang tinggi.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id