Dolar Menguat Meski Peluang Naikin Suku Bunga Menurun
Dolar AS menguat pada perdagangan Rabu (12/8) setelah data inflasi konsumen Amerika Serikat sesuai dengan perkiraan pasar. Indeks dolar naik sekitar 0,17% ke 99,98, meskipun data CPI justru membuat investor semakin mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September.
Inflasi AS Juli tercatat 3,4% secara tahunan, turun dari 3,5% pada Juni. Sementara Core CPI melandai menjadi 2,5% dari 2,6%. Hasil tersebut menunjukkan tekanan inflasi mulai terkendali dan tidak memberikan alasan baru bagi The Fed untuk segera memperketat kebijakan.
Peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan 15–16 September turun menjadi sekitar 40%, dari 44% sebelum CPI dirilis dan 55% sepekan sebelumnya. Pelemahan data tenaga kerja Juli juga ikut memperkuat pandangan bahwa The Fed memiliki ruang untuk menahan suku bunga lebih lama.
Meski demikian, dolar tetap mendapat dukungan dari harga minyak yang tinggi. Ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz dan berlanjutnya serangan terhadap jalur pelayaran Timur Tengah menjaga risiko inflasi energi tetap tinggi. Kondisi tersebut membantu DXY bertahan dekat level psikologis 100.
Fokus pasar berikutnya beralih ke data PPI pada Kamis dan penjualan ritel pada Jumat. Yen Jepang juga kembali melemah ke sekitar 159,45 per dolar setelah menghapus sebagian penguatan yang diperoleh dari intervensi AS-Jepang pada akhir Juli.
Analisis Newsmaker: Penguatan dolar pasca-CPI menunjukkan pasar belum sepenuhnya meninggalkan risiko inflasi meski peluang Fed hike September turun. Area DXY 100 menjadi level penting berikutnya. PPI yang panas atau minyak yang terus naik dapat mendorong dolar menembus level tersebut, sementara data lanjutan yang lebih dingin berpotensi kembali menekan DXY dan memberikan dukungan kepada emas.(yds)
Sumber: Newsmaker.id