Jelang CPI, Dolar Stabil Usai Trump Ancam Balasan ke Iran
Indeks dolar AS (DXY) bergerak hati-hati di sekitar 99,90 pada Selasa (9/6), ketika pelaku pasar mulai “pasang posisi” menjelang rilis CPI AS Rabu. Inflasi Mei diperkirakan kembali naik tipis, sehingga data ini berpotensi menjadi pemicu utama arah dolar dan yield dalam jangka pendek.
Dolar memang sempat melemah lebih dulu, namun kemudian memangkas penurunan setelah Presiden Donald Trump mengklaim Iran menembak jatuh helikopter Apache AS di atas Selat Hormuz dan menyatakan AS “harus merespons.” Nada eskalatif ini mendorong permintaan aset aman, sehingga dolar kembali mendapat dukungan.
Di pasar mayor, EUR/USD bertahan lebih tinggi di sekitar 1,1550 meski dolar pulih, dengan pasar juga menunggu sikap ECB yang diperkirakan menaikkan suku bunga pada Kamis. GBP/USD menguat ke area 1,3390 memanfaatkan pelemahan dolar yang terbatas, sementara USD/JPY bertahan di sekitar 160,30—tetap dekat area sensitif yang sering memunculkan spekulasi intervensi.
Di Asia-Pasifik, AUD/USD melemah ke sekitar 0,7030 setelah data Westpac Consumer Confidence Australia mengecewakan, menambah tekanan domestik di tengah sentimen global yang masih mudah berubah.
Kunci berikutnya tetap pada CPI: jika inflasi lebih panas dari perkiraan, dolar berpeluang lanjut menguat karena pasar bisa menaikkan kembali probabilitas kebijakan The Fed yang lebih ketat. Jika CPI lebih dingin, dolar bisa kehilangan tenaga—meski headline geopolitik seperti Hormuz tetap berpotensi menjaga volatilitas tinggi di lintas aset.(arl)*
Sumber: Newsmaker.id