Dolar Pulih, Sentimen Risk-Off Bertahan Meski Trump Tunda Serangan Iran
Dolar AS menghapus pelemahan hari sebelumnya pada Selasa (19/5), sementara saham dan obligasi pemerintah AS melemah karena keputusan Presiden Donald Trump menunda rencana serangan ke Iran gagal memulihkan selera risiko pasar. Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,3%, setelah pada Senin memutus tren penguatan enam sesi beruntun.
Di pasar obligasi, yield Treasury AS tenor 10 tahun naik 2 bps ke 4,61%, mempertegas bahwa tekanan suku bunga masih menjadi tema utama di tengah kekhawatiran inflasi. Citigroup menilai pelaku pasar obligasi mulai menjadikan 5,5% sebagai “angka bulat” baru untuk yield Treasury 30 tahun saat ekspektasi inflasi kembali dipasang lebih tinggi.
Trump mengatakan penundaan bombardemen baru ke Iran dilakukan setelah Arab Saudi dan sekutu Teluk lainnya meminta waktu tambahan untuk jalur diplomasi. Namun pasar tetap berhati-hati karena ketidakpastian geopolitik dinilai masih tinggi dan belum ada sinyal terobosan yang benar-benar menurunkan premi risiko.
Di Eropa, GBP/USD turun 0,3% ke 1,3389 setelah data menunjukkan perusahaan di Inggris memangkas tenaga kerja pada April, laju tercepat sejak awal pandemi. Penurunan ini terjadi setelah sterling sempat menguat 0,8% pada Senin—hari terbaik dalam lebih dari dua pekan—ketika Andy Burnham menyatakan tidak akan mengubah batas pinjaman pemerintah jika berkuasa, menenangkan kekhawatiran fiskal.
Di Asia, USD/JPY naik 0,2% ke 159,16, tertinggi sejak 30 April. Pelemahan yen kembali mengangkat isu risiko intervensi, dan mendorong minat pada strategi lindung nilai “tail risk” di opsi USD/JPY, meski volatilitas tersirat masih dekat level rendah siklus.
Sementara itu AUD/USD jatuh 0,8% ke 0,7114 mendekati titik terendah tiga pekan. Pejabat RBA Sarah Hunter menilai risiko ekspektasi inflasi Australia “elevated”, dan bank sentral menilai kenaikan suku bunga untuk ketiga kali berturut-turut memberi ruang memantau dampak lonjakan harga bahan bakar terkait konflik Timur Tengah terhadap rumah tangga dan bisnis. (arl)*
Sumber: Newsmaker.id