Rebound Patah, Perak Kembali Tertekan
Harga perak melemah pada sesi Eropa Selasa (19/5), membalikkan kenaikan sehari sebelumnya di tengah ketidakpastian Timur Tengah dan kekhawatiran inflasi yang belum mereda. Pada sekitar 10:38 waktu London, perak spot berada di US$75,47/ons, turun 2,69%.
Pelemahan terjadi setelah perak sempat mencoba pulih, namun pasar kembali defensif karena belum ada kemajuan yang meyakinkan terkait jalur diplomasi AS–Iran. Investor masih menilai risiko eskalasi tetap terbuka meski wacana negosiasi beberapa kali muncul.
Di sisi makro, tekanan terhadap logam mulia datang dari kondisi suku bunga dan pasar obligasi yang tetap ketat. Imbal hasil acuan AS masih bertahan tinggi, dengan US 10Y sekitar 4,617%, menjaga biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil seperti perak.
Dolar juga cenderung firm, sehingga menambah hambatan bagi logam mulia yang diperdagangkan dalam USD. Dollar Index berada di sekitar 99,217 pada saat yang sama.
Sementara itu, harga energi masih menjadi latar yang menjaga risiko inflasi. Meski terkoreksi dari puncak, Brent masih berada di sekitar US$110,55 dan WTI di US$103,56, level yang tetap tinggi secara historis dan sensitif terhadap headline Hormuz.
Pelaku pasar kini menunggu katalis berikutnya dari AS, terutama rilis FOMC minutes dan flash PMI, untuk membaca seberapa kuat narasi “suku bunga lebih tinggi lebih lama” bertahan. Tanpa penurunan yield yang jelas atau kepastian geopolitik, ruang pemulihan perak cenderung terbatas dalam jangka dekat. (arl)*
Sumber: Newsmaker.id