Dolar Menguat Tipis, Risiko Hormuz dan Isu Intervensi Yen Angkat Safe Haven
Dolar AS menguat tipis terhadap euro pada awal pekan, ketika konflik di Timur Tengah kembali menjaga kehati-hatian pasar dan menopang permintaan aset aman. Indeks dolar naik 0,1% ke 98,269, bertahan ditopang ketiadaan sinyal penyelesaian konflik setelah sempat turun dari puncak pascaserangan AS ke Iran pada awal Maret.
Sentimen sempat terganggu setelah kantor berita Iran Fars melaporkan dua rudal menghantam kapal perang AS di dekat Jask, Teluk Oman, menyusul peringatan Iran terkait masuknya kapal ke Selat Hormuz. Komando Pusat AS membantah laporan tersebut, sementara militer AS menyatakan dua kapal perusak masuk ke Teluk untuk mematahkan blokade Iran dan dua kapal dagang AS sudah melintasi Selat Hormuz.
Di Eropa, euro turun 0,1% ke US$1,17135. Tekanan juga datang dari isu hubungan perdagangan AS–UE setelah Trump menyatakan akan menaikkan tarif mobil dan truk dari UE menjadi 25%, sementara pemerintah Jerman menyebut tengah berkoordinasi dengan Komisi Eropa dalam pembicaraan dengan Washington.
Pergerakan yen menambah dinamika pasar valas. Dolar turun 0,05% terhadap yen setelah yen sempat menguat hingga 0,75% ke 155,69, memicu kembali spekulasi intervensi Jepang. Tokyo belum mengonfirmasi, namun sumber Reuters menyebut Jepang membeli yen untuk pertama kalinya dalam dua tahun, dengan estimasi belanja intervensi hingga 5,48 triliun yen (sekitar US$35 miliar).
Pound sterling melemah 0,1% ke US$1,35655, sementara dolar Australia turun 0,2% ke US$0,71905 menjelang keputusan Reserve Bank of Australia pada Selasa; mayoritas ekonom memperkirakan kenaikan cash rate ke 4,35%. Pasar kini memantau perkembangan Selat Hormuz, potensi respons otoritas Jepang di level yen, arah negosiasi dagang AS–UE, serta keputusan RBA sebagai pemicu volatilitas berikutnya. (Arl)*
Sumber: Newsmaker.id