Dolar AS Melemah Saat Pasar Menimbang Sinyal Akhir Konflik Iran
Penguatan dolar AS terhenti pada Selasa setelah investor menilai harapan bahwa serangan gabungan AS–Israel terhadap Iran bisa segera berakhir. Presiden AS Donald Trump mengatakan perang yang telah berlangsung lebih dari sepekan diperkirakan selesai “sangat segera”, namun ia juga menegaskan operasi bisa berlanjut bila Iran memblokir pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur vital di selatan Iran yang menyalurkan sekitar seperlima arus minyak dunia.
Dalam beberapa hari terakhir, kekhawatiran gangguan berkepanjangan di Hormuz—dan lonjakan tekanan inflasi global yang mengikutinya—telah mendorong dolar menguat. Meski kepemimpinan Iran dilaporkan menyatakan tidak akan membiarkan “satu liter minyak pun” melintasi chokepoint itu selama serangan AS dan Israel berlanjut, pelaku pasar tampak lebih terangkat oleh komentar Trump. Saham Asia dan Eropa menguat, futures ekuitas AS mengarah positif, sementara harga minyak yang sempat berada di level tertinggi sejak 2022 berbalik turun, diikuti penurunan imbal hasil obligasi.
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, terakhir turun 0,5% ke 98,73. ING menilai Senin menjadi sesi pembalikan bagi aset berisiko setelah Trump mengisyaratkan operasi militer dapat segera dihentikan, namun menekankan kelanjutan pelemahan dolar membutuhkan normalisasi arus pasokan minyak yang saat ini banyak “terjebak” di sekitar Selat Hormuz atau dialihkan menjauhi kawasan tersebut.
Di pasar valas, euro dan poundsterling menguat tipis terhadap dolar. Di Asia, yen relatif datar pada pasangan USD/JPY, namun tetap berada di bawah tekanan karena kekuatan dolar sebelumnya dan ketidakpastian gangguan energi yang berpotensi membebani ekonomi Jepang—negara importir besar minyak yang pengirimannya melewati Selat Hormuz.
Dari sisi data, revisi PDB Jepang kuartal IV menunjukkan ekonomi tumbuh jauh lebih kuat dari perkiraan awal, didukung belanja modal yang solid dan konsumsi yang stabil. Meski mencerminkan ketahanan, rilis tersebut juga menunjukkan ekspor masih tertekan; revisi kenaikan belanja swasta juga tetap sejalan dengan rata-rata historis sekitar 0,3% per kuartal. Ketahanan ini memberi Bank of Japan ruang lebih besar untuk menaikkan suku bunga, tetapi bank sentral diperkirakan menahan langkah di tengah ketidakpastian pasar yang meningkat. Mata uang Asia secara umum melemah karena pasar tetap waspada terhadap perkembangan konflik Iran.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id