Sinyal Eskalasi Dorong Brent Tembus US$105
Harga minyak menguat tajam di perdagangan hari Kamis (23/4) setelah muncul tanda-tanda eskalasi baru dalam perang Iran, meredupkan harapan pemulihan cepat arus energi melalui Selat Hormuz. West Texas Intermediate (WTI) untuk Juni naik 3,1% dan ditutup di US$95,85 per barel di New York, sementara Brent untuk Juni juga naik 3,1% ke US$105,07 per barel.
Pergerakan harga sempat berfluktuasi sepanjang sesi, namun reli menguat setelah pasar menilai pembicaraan damai kembali buntu, retorika meningkat, dan ancaman militer bertambah—mengembalikan premi geopolitik ke harga. Media Iran melaporkan sistem pertahanan udara di sejumlah wilayah Teheran diaktifkan untuk menghadapi “target bermusuhan”, sementara investor mewaspadai kemungkinan infrastruktur energi kembali menjadi sasaran menyusul pernyataan Israel bahwa mereka siap melanjutkan serangan.
Di jalur pelayaran, risiko dinilai makin nyata. Pemilik kapal menghadapi indikasi bahwa melintas Hormuz tidak aman, meski ada jaminan dari Washington, karena AS dan Iran sama-sama membatasi akses di chokepoint tersebut. Ketidakpastian soal seberapa luas perairan telah ditanami ranjau—dan berapa lama proses pembersihannya—menambah faktor risiko bagi pelayaran, sekaligus memperketat pasar ketika pasokan efektif terus berkurang selama konflik berlarut.
Trump sebelumnya mengatakan memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menembak kapal-kapal yang memasang ranjau di selat tersebut. Ketegangan juga meningkat setelah AS menaiki supertanker yang terkena sanksi di Samudra Hindia, serta mencegat dua tanker Iran yang disebut mencoba menghindari blokade. Iran, di sisi lain, menegaskan tidak akan bernegosiasi selama blokade laut AS atas pelabuhannya masih berlaku dan menyatakan siap merespons ancaman lanjutan.
Bagi pasar, selama arus Hormuz masih terhambat, keketatan pasokan cenderung bertahan dan inventori global berisiko terus tergerus, menopang harga minyak. Fokus berikutnya adalah perkembangan keamanan pelayaran di Hormuz (insiden baru, ranjau, penegakan blokade), sinyal kelanjutan diplomasi, serta potensi risiko terhadap infrastruktur energi kawasan yang bisa memperbesar premi risiko dalam jangka pendek. (Arl)*
Sumber: Newsmaker.id