Euro Menguat Dekati Level Tertinggi Selama 3 Pekan
Euro diperdagangkan di atas US$1,17, mendekati level terkuat sejak 20 April, seiring pasar semakin hawkish terhadap prospek kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) di tengah kekhawatiran inflasi yang kembali menguat. Pergerakan ini mencerminkan penyesuaian ekspektasi suku bunga, dengan investor menilai ruang pengetatan ECB kian terbuka.
Di pasar suku bunga, money markets kini memperkirakan pengetatan ECB lebih dari 50 basis poin hingga akhir tahun, yang setara dengan setidaknya dua kali kenaikan suku bunga. Probabilitas kenaikan pertama pada Juni juga dinilai lebih dari 75%, setelah beberapa pejabat ECB belakangan memberi sinyal peluang kenaikan suku bunga meningkat akibat tekanan inflasi yang persisten.
Dorongan inflasi juga diperkuat oleh kenaikan harga energi. Brent kembali naik menembus US$100 per barel menyusul bentrokan antara AS dan Iran di sekitar Selat Hormuz, memicu kekhawatiran stabilitas gencatan senjata yang rapuh di kawasan. Kenaikan minyak berpotensi menjaga tekanan biaya dan inflasi, yang pada gilirannya memperkuat narasi kebijakan ECB yang lebih ketat.
Di sisi risiko eksternal, Presiden AS Donald Trump memperingatkan Uni Eropa bahwa ia akan menerapkan tarif “jauh lebih tinggi” terhadap barang-barang Uni Eropa jika blok tersebut tidak menghapus tarif atas produk AS sebelum 4 Juli. Kombinasi repricing suku bunga ECB, risiko energi, dan ketidakpastian perdagangan menjadi faktor yang akan dipantau pasar karena dapat memengaruhi arus modal, diferensial suku bunga, serta arah volatilitas EUR/USD dalam waktu dekat. (asd)
Sumber: Newsmaker.id