Kripto Bergerak Terbatas, Investor Tunggu Katalis Baru
Bitcoin bergerak sedikit melemah pada perdagangan Kamis (16/7) setelah sempat pulih dalam beberapa sesi terakhir. Dukungan sebelumnya datang dari data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan, sehingga meredakan kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Bitcoin turun 0,9% ke sekitar US$64.160,4 pada pukul 05.23 ET atau 09.23 GMT. Meski melemah harian, aset kripto terbesar dunia itu masih naik sekitar 1,6% dalam sepekan setelah sempat pulih dari level terendah tahun ini.
Pemulihan Bitcoin terjadi karena pasar mulai mengurangi ekspektasi bahwa The Fed akan segera menaikkan suku bunga. Data CPI dan PPI AS bulan Juni yang lebih jinak memberi sinyal bahwa tekanan inflasi mulai mereda, sehingga aset berisiko seperti kripto mendapat ruang untuk rebound.
Namun, tekanan belum sepenuhnya hilang. Konflik antara AS dan Iran masih membebani sentimen pasar karena kedua negara kembali saling menyerang untuk hari kelima berturut-turut. Gangguan aliran minyak di Selat Hormuz juga mendorong harga energi naik dan memunculkan kembali risiko inflasi.
Kondisi ini membuat investor tetap berhati-hati. Jika harga minyak terus naik, inflasi bisa kembali menguat dalam beberapa bulan mendatang dan membuka peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Hal ini menjadi beban bagi Bitcoin dan aset kripto lain yang tidak memberikan imbal hasil.
Di pasar altcoin, pergerakan cenderung terbatas. Ether naik tipis 0,3% ke sekitar US$1.885,19, sementara XRP melemah 0,3%. Solana turun 1,8%, Cardano melemah 1,2%, BNB naik tipis, sedangkan Dogecoin dan TRUMP bergerak kurang dari 1%. Dampaknya ke market, kripto masih butuh katalis baru untuk melanjutkan penguatan, sementara risiko minyak, geopolitik, dan arah suku bunga tetap menjadi penghalang utama. (arl)
Sumber: Newsmaker.id