Bitcoin Bertahan di Area US$68.000, Risiko Geopolitik Menekan Sentimen
Bitcoin bergerak di sekitar US$68.000 pada akhir Maret, bertahan dekat level terendah dua pekan setelah tekanan jual terbaru menahan pemulihan. Sentimen risk-on melemah seiring eskalasi ancaman dan serangan yang melibatkan AS, Israel, dan Iran, membuat investor mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Pemicu utama datang dari ketegangan di Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika jalur tersebut tidak dibuka kembali, sementara Iran memperingatkan akan membalas dengan menargetkan aset AS dan Israel bila infrastruktur energinya diserang. Eskalasi ini mendorong harga minyak dan komoditas naik, memperkuat ketidakpastian pasar.
Dalam kondisi seperti ini, Bitcoin cenderung bergerak searah dengan aset berisiko lain. Sejak perang Timur Tengah pecah, aset kripto terbesar itu sudah turun lebih dari 20%, memperpanjang tren koreksi yang dimulai sejak akhir Oktober setelah Bitcoin turun dari rekor tertingginya.
Tekanan tambahan datang dari pelemahan pasar saham dan aset berisiko global, yang mengurangi arus masuk ke kripto. Di saat bersamaan, biaya energi yang lebih tinggi berpotensi menaikkan ongkos penambangan, sehingga menambah hambatan fundamental di sisi pasokan dan profitabilitas penambang.
Dukungan sentimen dari harapan regulasi kripto yang lebih jelas juga melemah karena perhatian pasar bergeser ke risiko geopolitik. Ketika fokus investor berubah dari “narrative-driven” ke “risk management”, volatilitas kripto biasanya meningkat dan pergerakan harga menjadi lebih reaktif terhadap headline.
Ke depan, arah Bitcoin akan sangat dipengaruhi oleh jalur perang Iran dan dampaknya pada harga energi, serta kondisi risk sentiment global. Jika minyak tetap tinggi dan pasar terus mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat, ruang pemulihan kripto berpotensi tetap terbatas. (asd)
Sumber : Newsmaker.id