Konflik AS–Iran dan Hike Rate Tekan Prospek Perak
Harga perak masih bergerak lemah pada Rabu (10/6), dengan XAG/USD berada di kisaran US$65,1–US$65,7/oz setelah sempat turun ke area US$63,38/oz intraday. Tekanan ini menunjukkan pasar logam mulia belum lepas dari kombinasi sentimen geopolitik, harga energi, dan ekspektasi suku bunga AS.
Pelemahan perak terjadi setelah data inflasi AS Mei sesuai ekspektasi, tetapi tetap menunjukkan tekanan harga yang tinggi. CPI tahunan naik ke 4,2%, sementara core CPI berada di 2,9%. Angka ini memperkuat pandangan bahwa The Fed kemungkinan masih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga, terutama ketika harga energi kembali naik akibat konflik di Timur Tengah.
Bagi perak, transmisi fundamentalnya cukup jelas: konflik AS–Iran mendorong risiko gangguan energi, harga minyak naik, inflasi berpotensi bertahan tinggi, lalu ekspektasi suku bunga ikut mengeras. Kondisi ini menjadi tekanan bagi logam mulia karena perak tidak memberikan imbal hasil, sehingga kurang menarik ketika pasar mulai memperhitungkan bunga tinggi lebih lama.
Ketegangan Timur Tengah kembali menjadi fokus setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan baru. Reuters melaporkan harga minyak naik setelah eskalasi tersebut, dengan WTI berada di sekitar US$89,64/barel dan Brent di sekitar US$92,65/barel. Kenaikan minyak menjaga kekhawatiran inflasi tetap hidup dan membuat pasar lebih sensitif terhadap arah kebijakan The Fed.
Tekanan pada perak juga sejalan dengan pelemahan logam mulia lain. Reuters mencatat emas dan perak turun tajam pada sesi yang sama, meski data core CPI bulanan sedikit lebih rendah dari perkiraan. Hal ini menunjukkan pasar lebih fokus pada risiko inflasi energi dan peluang kenaikan suku bunga lanjutan dibanding sekadar angka CPI inti yang lebih jinak.
Untuk saat ini, perak masih berada dalam fase defensif. Selama konflik AS–Iran belum mereda dan harga minyak tetap tinggi, ruang pemulihan XAG/USD cenderung terbatas. Variabel utama yang perlu dipantau adalah perkembangan Selat Hormuz, arah harga minyak, sinyal The Fed setelah CPI, serta apakah dolar dan yield Treasury kembali menguat.(Arl)
Sumber : Newsmaker.id