Minyak Sedikit Menguat Di Tengah Gejolak Serangan AS-Venezuela
Harga minyak ditutup sedikit lebih tinggi setelah sesi perdagangan yang riuh pada hari Jumat (31/10), melonjak setelah laporan media mengatakan serangan udara AS terhadap Venezuela dapat dimulai dalam beberapa jam dan kemudian melemah setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan bantahan di media sosial.
Harga minyak mentah Brent berjangka ditutup pada $65,07 per barel, naik 7 sen, atau 0,11. Minyak mentah West Texas Intermediate AS ditutup pada $60,98 per barel, naik 41 sen, atau 0,68%.
AS telah mengerahkan satuan tugas yang berpusat di sekitar kapal induk terbesar negara itu, Gerald Ford, di lepas pantai Venezuela, jauh melampaui kebutuhan untuk menyerang pengedar narkoba di kapal-kapal kecil, fokus aktivitas angkatan laut AS di Karibia dalam beberapa pekan terakhir.
Dolar AS mendekati level tertinggi tiga bulan terhadap mata uang utama, membuat pembelian komoditas berdenominasi dolar seperti minyak menjadi lebih mahal.
Sementara itu, beberapa sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia, kemungkinan akan menurunkan harga minyak mentahnya untuk pembeli Asia pada bulan Desember ke level terendah dalam beberapa bulan, menandakan sentimen negatif.
Harga minyak merosot setelah survei resmi menunjukkan aktivitas pabrik di Tiongkok menyusut selama tujuh bulan terakhir pada bulan Oktober.
Brent dan WTI diperkirakan akan turun masing-masing 2,6% dan 2% pada bulan Oktober seiring Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen-produsen utama non-OPEC meningkatkan produksi.
Pasokan yang lebih besar juga akan meredam dampak sanksi Barat yang mengganggu ekspor minyak Rusia ke pembeli utamanya, Tiongkok dan India.
Sebuah survei Reuters memperkirakan harga rata-rata Brent akan mencapai $67,99 per barel pada tahun 2025, sekitar 38 sen lebih tinggi dari perkiraan bulan lalu. WTI diperkirakan akan mencapai $64,83, sedikit lebih tinggi dari perkiraan bulan September sebesar $64,39.
OPEC+ cenderung meningkatkan produksi secara moderat pada bulan Desember, menurut beberapa sumber yang mengetahui perundingan tersebut menjelang pertemuan kelompok tersebut pada hari Minggu. Pada bulan Agustus, ekspor minyak mentah Arab Saudi mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir, yaitu 6,407 juta barel per hari, menurut data dari Joint Organization Data Initiative.
Laporan Badan Informasi Energi AS (EIA) juga menunjukkan rekor produksi sebesar 13,6 juta barel per hari pekan lalu.
Trump mengatakan pada hari Kamis bahwa Tiongkok telah setuju untuk memulai proses pembelian energi AS dan bahwa transaksi berskala sangat besar mungkin akan terjadi yang melibatkan pembelian minyak dan gas dari Alaska.
Namun, para analis tetap skeptis apakah kesepakatan perdagangan AS-Tiongkok akan meningkatkan permintaan Tiongkok terhadap energi AS. (Arl)
Sumber: Reuters.com